Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Satu Droplet Batuk Dapat Melayang Hingga 6,6 Meter

Jumat 06 Nov 2020 13:36 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Reiny Dwinanda

Lontaran droplet ternyata bisa menjangkau 6,6 meter. Memakai masker dan menjaga jarak fisik dapat mencegah orang terpapar droplet.

Lontaran droplet ternyata bisa menjangkau 6,6 meter. Memakai masker dan menjaga jarak fisik dapat mencegah orang terpapar droplet.

Foto: Slash Gear
Menjaga jarak fisik umumnya efektif untuk menghindarkan orang dari paparan droplet.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian terbaru mengungkap sejauh mana droplet bisa terbang ketika dilontarkan saat orang batuk. Ilmuwan dari Singapura mendapati, satu percikan (droplet) batuk, di bawah kecepatan angin dua meter per detik, dapat terlontar hingga 6,6 meter. Ketika menguap menjadi lebih kecil oleh udara kering, droplet bisa berkelana lebih jauh.

Para peneliti dari Singapura memasukkan aspek penting fisika fluida untuk memperdalam pemahaman tentang penularan SARS-CoV-2, virus corona tipe baru yang menyebabkan Covid-19. Dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal Physics of Fluids, para peneliti dari Institute of High Performance Computing di Singapura melakukan studi numerik tentang dispersi percikan menggunakan simulasi aliran udara ketepatan tinggi.

"Selain memakai masker, kami menemukan bahwa menjaga jarak fisik pada umumnya efektif, karena sebaran droplet terbukti berkurang pada seseorang yang setidaknya berjarak satu meter dari batuk," kata penulis studi Fong Yew Leong, dilansir Times Now News, Jumat (6/11).

Batuk biasa mengeluarkan ribuan droplet dalam berbagai ukuran. Para ilmuwan menemukan, droplet besar jatuh ke tanah dengan cepat karena gravitasi, tetapi dapat terlontar sejauh satu meter oleh semburan batuk, bahkan tanpa angin.

Droplet berukuran sedang bisa menguap menjadi droplet yang lebih kecil, yang lebih ringan dan lebih mudah terbawa oleh angin. Inilah yang dapat menyebar lebih jauh.

Para peneliti menawarkan gambaran yang lebih rinci tentang penyebaran droplet karena mereka memasukkan pertimbangan biologis virus, seperti konten nonvolatil dalam penguapan droplet, ke dalam pemodelan penyebaran droplet di udara.

"Droplen yang menguap mempertahankan konten virus yang tidak mudah menguap, sehingga viral load secara efektif meningkat," kata penulis Hongying Li.

Ini berarti bahwa droplet yang menguap yang menjadi aerosol lebih rentan untuk terhirup jauh ke dalam paru-paru, yang menyebabkan infeksi di bagian bawah saluran pernapasan. Itu jika dibandingkan dengan droplet lebih besar yang tidak menguap.

Para peneliti menggunakan alat komputasi untuk memecahkan formulasi matematika kompleks yang mewakili aliran udara dan droplet batuk di udara di sekitar tubuh manusia pada berbagai kecepatan angin dan ketika dipengaruhi oleh faktor lingkungan lainnya. Mereka juga menilai profil deposisi pada seseorang pada jarak tertentu.

Penemuan ini sangat bergantung pada kondisi lingkungan, seperti kecepatan angin, tingkat kelembapan, dan suhu udara sekitar, dan berdasarkan asumsi yang dibuat dari literatur ilmiah yang ada tentang kelangsungan hidup virus Covid-19.

"Sementara penelitian ini difokuskan pada transmisi udara luar ruangan dalam konteks tropis, para ilmuwan berencana untuk menerapkan temuan mereka untuk menilai risiko dalam pengaturan dalam dan luar ruangan tempat orang banyak berkumpul, seperti ruang konferensi atau amfiteater," kata studi tersebut.



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA