Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Sanitasi Buruk, Warga India Lebih Kebal dari Covid-19 Parah

Jumat 06 Nov 2020 11:00 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Reiny Dwinanda

 Petugas kesehatan India yang mengenakan alat pelindung diri tiba untuk mengambil bagian dalam kamp pemeriksaan di perkampungan kumuh di Mumbai, India, Rabu, 17 Juni 2020.

Petugas kesehatan India yang mengenakan alat pelindung diri tiba untuk mengambil bagian dalam kamp pemeriksaan di perkampungan kumuh di Mumbai, India, Rabu, 17 Juni 2020.

Foto: AP/Rafiq Maqbool
Jumlah kematian warga India termasuk kecil di tengah banyaknya kasus Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Buruknya higiene, minimnya akses terhadap air minum bersih, dan jeleknya sanitasi warga India selama bertahun-tahun kemungkinan berperan dalam menghindarkan mereka dari mengidap Covid-19 yang parah. Mengapa bisa begitu?

Menyumbang sekitar seperenam dari total kasus Covid-19 di dunia, India berada di posisi kedua negara yang paling terdampak pandemi. Namun, angka kematian di negara itu masih salah satu yang terendah di dunia, yakni kurang dari dua persen.

Menurut sebuah penelitian belum lama ini, orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah mungkin lebih kebal terhadap Covid-19 dan infeksi lain karena mereka terpapar patogen penyebab penyakit sejak lahir, dilansir Times Now News, Jumat (6/11). Studi ini diterbitkan sebagai makalah yang masih harus ditinjau sejawat.

Para ilmuwan dari National Centre for Cell Sciences (NCSS), Pune, dan Chennai Mathematical Institute, India melihat data yang tersedia di domain publik dari 106 negara.  Mereka membandingkan statistik tersebut berdasarkan 24 parameter yang meliputi kepadatan penduduk, demografi, dan kualitas sanitasi.

Baca Juga

photo
Seorang pekerja kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri memberikan pembersih tangan kepada seorang gadis selama kamp pemeriksaan di sebuah perkampungan kumuh di Mumbai, India, Rabu, 17 Juni 2020. - (AP/Rafiq Maqbool)
Mereka juga menemukan bahwa tingkat kematian akibat Covid-19 lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan tinggi dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah. Negara-negara ini juga memiliki prevalensi penyakit autoimun yang tinggi, seperti diabetes tipe 1, psoriasis, dan asma.

"Per juta jumlah penduduk (kematian) tampaknya tinggi di negara-negara yang lebih kaya dan memiliki PDB tinggi," kata Shekhar Mande, mantan direktur NCSS yang merupakan salah satu penulis makalah tersebut.

Sebaliknya, menurut Mande, negara-negara dengan PDB rendah, lebih sedikit jumlah orang yang meninggal akibat penyakit. Studi independen lain yang menganalisis data dari 122 negara menemukan bahwa paparan mikroba yang tinggi mungkin dapat menyebabkan efek perlindungan terhadap Covid-19 melalui rantai respons imun yang kompleks.

Studi tersebut dilakukan oleh para peneliti di Dr Rajendra Pradsad Government Medical College di Kangra. Namun, para peneliti mengklarifikasi bahwa mereka sama sekali tidak mempromosikan sanitasi dan kebersihan yang buruk untuk pencegahan penyakit.

Beberapa ahli menyarankan bahwa lockdown awal saat kasus Covid-19 masih sedikit telah membantu sistem perawatan kesehatan untuk mempersiapkan masuknya pasien dalam jumlah besar. Ini telah membantu India memberikan perawatan dan perawatan yang tepat untuk pasien Covid-19, seiring pertumbuhan infeksi di negara itu.

Hal ini turut mengurangi beban kematian akibat Covid-19 di negara tersebut. India juga merupakan salah satu negara dengan populasi kaum muda tertinggi di dunia. Karena orang tua berisiko tinggi terkena infeksi parah dan kematian akibat Covid-19, beberapa ahli percaya bahwa rendahnya tingkat kematian akibat Covid-19 di negara tersebut juga dapat dikaitkan dengan demografinya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA