Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Psoriasis, Lebih dari Sekadar Penyakit Kulit

Jumat 06 Nov 2020 08:30 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Kampanye tentang penyakit psoriasis. Tata laksana psoriasis beragam, mulai dari pengobatan topikal menggunakan krim dan salep, terapi sinar ultraviolet, obat-obatan oral, dan yang terbaru adalah pengobatan menggunakan agen biologik.

Kampanye tentang penyakit psoriasis. Tata laksana psoriasis beragam, mulai dari pengobatan topikal menggunakan krim dan salep, terapi sinar ultraviolet, obat-obatan oral, dan yang terbaru adalah pengobatan menggunakan agen biologik.

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Psoriasis merupakan kondisi kulit autoimun kronis, bisa terjadi pada pria dan wanita.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psoriasis merupakan kondisi kulit autoimun kronis yang mempercepat siklus pertumbuhan sel kulit. Alhasil, timbul bercak merah bersisik, tebal dan kering.

Psoriasis dapat timbul pada kulit di bagian tubuh mana pun. Beberapa pasien juga merasa gatal, terbakar, dan menyengat. Kondisi kulit tidak menular ini dialami sekitar dua persen dari total populasi dunia.

Baca Juga

Menurut Ketua Kelompok Studi Psoriasis Indonesia (KSPI), dr. Endi Novianto, SpKK(K), psoriasis banyak jumpai di masyarakat. Hanya saja, sebagian orang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami psoriasis.

Walaupun psoriasis masih belum dapat sepenuhnya disembuhkan, tetapi dengan penanganan yang tepat, penyakit ini bisa dikendalikan kekambuhannya dengan baik. Endi menjelaskan, psoriasis yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih serius seperti radang sendi (psoriasis arthritis) dan sindrom metabolik.

"Psoriasis arthritis dapat terjadi pada sekitar 30 persen orang dengan psoriasis," ujarnya dalam kelas media virtual bertema “Psoriasis, Lebih dari Sekadar Penyakit Kulit”, Kamis (5/11).

Selain psoriasis arthritis, orang dengan psoriasis juga dapat memiliki berbagai penyakit penyerta lainnya, seperti depresi, diabetes, dan penyakit jantung. Sekitar 12 persen dari orang dengan psoriasis memiliki diabetes tipe 2.

Sementara itu, dr. Danang Tri Wahyudi, SpKK(K) mengatakan, setiap orang memiliki risiko yang sama terkena psoriasis, baik wanita maupun pria. Untuk itu, menjadi sangat penting bagi seseorang yang memiliki masalah psoriasis atau yang mengetahui apabila keluarganya memiliki riwayat penyakit psoriasis, untuk dapat menyadari pemicunya.

Pengidap psoriasis perlu mendapatkan tatalaksana yang adekuat. Biasanya, penatalaksanaannya bergantung pada seberapa banyak kulit yang terpengaruh, seberapa berat kondisinya atau lokasi bercak kemerahan dan sisik, serta bersifat individual.

Selain itu, penting untuk mengubah gaya hidup untuk menjadi pola hidup bersih dan sehat. Penatalaksanaan yang direkomendasikan beragam, mulai dari pengobatan topikal menggunakan krim dan salep, terapi sinar ultraviolet, obat-obatan oral, dan yang terbaru adalah pengobatan menggunakan agen biologik.

“Walaupun telah mendapatkan pengobatan oleh dokter, pasien dengan psoriasis juga harus mengubah dan menerapkan gaya hidup yang sehat untuk mendapatkan kualitas hidup yang optimal, antara lain menurunkan berat badan bagi yang berlebih, berhenti konsumsi alkohol, berhenti merokok, melakukan diet sehat, dan yang tidak kalah penting adalah berolahraga secara rutin," tutup dr. Danang.

Penatalaksanaan psoriasis yang efektif dapat mengatasi gejala kulit. Lebih dari itu, peradangan di dalam tubuh yang dapat menyebabkan penyakit penyerta lainnya juga bisa berkurang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA