Kamis 05 Nov 2020 13:50 WIB

Karena Panen Gadu, Sektor Pertanian Masih Tumbuh Positif

Dari lima sektor kontributor terbesar PDB, pertanian satu-satunya yang tumbuh positif

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Gita Amanda
Pertanian Indonesia. (Ilustrasi)
Foto: Kementan
Pertanian Indonesia. (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pertanian menjadi satu dari sedikit sektor yang mengalami pertumbuhan positif pada kuartal ketiga. Bahkan, dari lima sektor kontributor terbesar PDB, pertanian menjadi satu-satunya yang mencatatkan pertumbuhan positif.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian tumbuh 2,15 persen pada periode Juli-September dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu (year on year/ yoy). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh subsektor tanaman pangan yang tumbuh 7,14 persen (yoy).

"Ini karena adanya panen raya kedua tanaman padi atau disebut panen gadu pada kuartal ketiga 2020 yang lebih tinggi dibandingkan kuartal ketiga 2019," tutur Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Kamis (5/11).

Selain itu, tanaman hortikultura juga masih tumbuh tinggi 5,6 persen. Tren ini dikarenakan adanya berbagai peningkatan produksi berbagai produk hortikultura seperti cabai, buah-buahan dan sayuran. Demikian pula dengan tanaman perkebunan yang tumbuh tipis 0,67 persen.

Di sisi lain, sektor di luar pertanian justru mengalami kontraksi. Sebut saja perikanan dan kehutanan yang masing-masing tumbuh negatif 1,03 persen dan 1,62 persen dibandingkan kuartal yang sama pada tahun lalu.

Peternakan juga mengalami penurunan 0,16 persen. Kontraksi disebabkan penyusutan jumlah pemotongan hewan kurban Idul Adha dan masih rendahnya permintaan hewan ternak untuk jasa akomodasi dan restoran sebagai imbas pandemi Covid-19.

Berbeda dengan pertanian, sektor pengolahan masih tumbuh di zona negatif. Pada kuartal ketiga, kontraksinya mencapai 4,31 persen (yoy). Meski membaik dibandingkan kuartal kedua yang negatif 6,19 persen, penurunan sektor manufaktur berperan besar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dari data BPS terlihat, industri pengolahan merupakan sumber kontraksi terdalam ke PDB kuartal ketiga yang kontraksi 3,49 persen. Sharenya mencapai minus 0,89 persen.

Kontributor terbesar kedua pada kontraksinya ekonomi kuartal ketiga adalah sektor transportasi dan pergudangan dengan share minus 0,70 persen. Sektor ini tercatat tumbuh negatif 16,70 persen (yoy) karena pembatasan mobilitas akibat pandemi Covid-19.

Tapi, kontraksi transportasi dan pergudangan tidak sedalam kuartal kedua yang mencapai minus 30,80 persen. Hal ini dikarenakan adanya adaptasi kebiasaan baru atau pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang meningkatkan kinerja lapangan usaha tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement