Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Indonesia Diprediksi Bakal Catatkan IPO Terbanyak di 2020

Kamis 05 Nov 2020 06:33 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha

Layar elektronik menunjukan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, JUmat (23/10). Indonesia diprediksi akan meraih jumlah penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) terbanyak di antara bursa Asia Tenggara pada tahun ini.

Layar elektronik menunjukan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, JUmat (23/10). Indonesia diprediksi akan meraih jumlah penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) terbanyak di antara bursa Asia Tenggara pada tahun ini.

Foto: Prayogi/Republika
Dalam sembilan bulan pertama 2020, Indonesia telah mencatat sebanyak 46 IPO.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia diprediksi akan meraih jumlah penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) terbanyak di antara bursa Asia Tenggara pada tahun ini. Dalam sembilan bulan pertama 2020, Indonesia telah mencatat sebanyak 46 IPO.

Menurut Bloomberg, jumlah IPO di Indonesia pada tahun ini juga merupakan yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Sebagai perbandingan, Malaysia hanya mencatat 10 IPO, Thailand dan Singapura lebih rendah yaitu sebanyak tujuh IPO. 

Sementara dana yang telah dihimpun oleh 46 perusahaan Indonesia ini melalui IPO tersebut mencapai sekitar 385 juta dolar AS atau setara Rp 5,5 triliun. Besaran rata-rata setiap penawaran adalah 8,4 juta dolar AS, turun 59 persen dari rata-rata 20,5 juta dolar AS pada tahun lalu.

Baca Juga

Lebih dari 70 persen IPO tersebut masing-masing menghimpun kurang dari 10 juta dolar AS dibandingkan dengan 63 persen di periode yang sama tahun lalu. Meskipun nilai rata-rata lebih kecil dibanding tahun lalu, IPO baru tersebut dinilai telah berkinerja dengan baik dengan rata-rata menghasilkan sekitar 80 persen di atas harga IPO pada akhir September 2020.

"Di tengah pandemi Covid-19, Indonesia mencatat ada 46 perusahaan yang mencari modal dengan go public, menunjukkan ketahanan pasar modal Indonesia," kata Kepala Data Global APAC, Bloomberg, Vatsan Sudersan, melalui siaran pers, Rabu (4/11).

Perusahaan dari sektor Keuangan dan Konsumen Non-siklus mendominasi pasar IPO Indonesia pada tahun ini. Masing-masing menyumbang 33 persen dari total jumlah dana yang terkumpul. Tahun lalu, sektor Keuangan menyumbang 58 persen dari total dana yang dihimpun melalui IPO, yang terbesat diantaranya yaitu IPO Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG senilai 334 juta dolar AS.

Perusahaan-perusahaan di industri kesehatan termasuk di antara yang berkinerja terbaik dalam IPO tahun ini. Sejauh ini, Metro Healthcare Indonesia, perusahaan dengan besaran penawaran IPO terbesar pada tahun 2020, mengalami kenaikan harga saham sebesar 263 persen sejak IPO hingga 30 September. 

Begitu pula dengan produsen vitamin dan obat-obatan Soho Global Health. Harga sahamnya melonjak 388 persen sejak pencatatannya hingga akhir kuartal ketiga. 

Mengenai pasar obligasi, perusahaan-perusahaan Indonesia telah menerbitkan sekuritas utang sekitar 32 miliar dolar AS dalam sembilan bulan pertama tahun 2020 yang terdiri dari 99 persen total modal yang dihimpun. Penerbitan obligasi pada tahun ini telah turun 6 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019. Sebagian besar obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut terdaftar di pasar luar Indonesia, dengan Singapura yang masih menjadi pilihan utama.

Terlepas dari risiko mata uang, perusahaan-perusahaan di Indonesia dinilai masih memilih mengumpulkan dana dalam dolar AS. Sekitar 66 persen dari utang diperoleh dalam dolar dibandingkan dengan 32 persen yang dihimpun dalam Rupiah Indonesia, dan 2 persen lainnya dalam Euro.

Dalam hal merger dan akuisisi, jumlah kesepakatan turun sekitar 23 persen dalam tiga kuartal pada tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Total volume kesepakatan menurun dari 10,3 miliar dolar AS menjadi 9,4 miliar dolar AS  secara yoy.

Sebagian besar kesepakatan merger dan akuisisi berasal dari sektor Konsumen Non-siklus dan Teknologi pada tahun ini. Salah satu kesepakatan terpenting yaitu akuisisi Pinehill Co senilai 3 miliar dolar AS oleh Indofood CBP dan pembiayaan senilai 1,2 miliar dolar AS untuk Gojek.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA