Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Pengungsi di Perbatasan Berharap Biden Menang

Rabu 04 Nov 2020 10:29 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Warga Haiti menyeberangi perbatasan menuju Amerika Serikat (AS) di Tijuana, Meksiko.

Warga Haiti menyeberangi perbatasan menuju Amerika Serikat (AS) di Tijuana, Meksiko.

Foto: AP Photo/Gregory Bull
Para pencari suaka yakin kemenangan Biden memberi mereka kesempatan yang lebih baik

REPUBLIKA.CO.ID, MONTERREY - Beberapa pengungsi di seberang perbatasan Brownsville, Texas berencana berkumpul bersama untuk menyaksikan hasil dari pemilihan presiden Amerika Serikat (AS). Mereka berharap Joe Biden dari Demokrat memenangkan pertarungan ini.

Oscar Borjas merupakan seorang pencari suaka Honduras yang menghabiskan satu tahun tinggal di perkemahan yang dingin dan tidak sehat di Matamoros. Dia dan beberapa pengungsi lainnya bukanlah pemilih AS.

Borjas juga termasuk di antara puluhan ribu migran yang hidupnya telah diubah oleh kebijakan imigrasi pemerintahan Trump. Dia dan sebagian besar migran berdoa bagi Biden untuk memenangkan pemilihan. "Kami semua berharap Biden," kata Borjas.

Dari Tijuana hingga Matamoros, para pencari suaka yang terdampar di sepanjang perbatasan oleh kebijakan "Tetap di Meksiko" pemerintahan Trump harap-harap cemas saat orang Amerika menuju tempat pemungutan suara. Lebih dari belasan pengungsi yang diwawancarai oleh Reuters mengatakan mereka yakin kemenangan Biden akan memberi mereka kesempatan yang lebih baik untuk melarikan diri dari kota-kota perbatasan Meksiko yang berbahaya dan memasuki AS sambil mengejar kasus suaka mereka.

"Saya berdoa. Saya tidak religius tapi saya masih berdoa agar Trump keluar," kata Yuri Gonzalez. Yuri adalah seorang pencari suaka Kuba yang telah menghabiskan lebih dari satu setengah tahun terdampar di Ciudad Juarez, di seberang perbatasan dari El Paso, Texas. Dia menunggu klaim suaka diproses oleh pengadilan AS.

"Seorang pria yang menghabiskan empat tahun memisahkan keluarga dan memicu kekerasan rasis tidak pantas menjadi presiden," kata Yuri sambil mencukur rambut di toko tukang cukur tempat dia bekerja.

Pemerintahan Trump telah memberlakukan serangkaian kebijakan, termasuk "Tetap di Meksiko" yang membuat hampir tidak mungkin untuk meminta suaka di perbatasan selatan AS. Pemerintah mengatakan langkah-langkah ini, termasuk "Tetap di Meksiko", telah berhasil membatasi imigrasi ke AS dan mencegah "klaim suaka palsu".

Beberapa migran yang diwawancarai oleh Reuters sangat menyadari bahwa Biden telah berjanji untuk mengakhiri program "Tetap di Meksiko" pada hari pertamanya menjabat. Meski para pengungsi lainnya tidak akrab dengan namanya.

Namun dari pantai ke pantai, lebih dari belasan pencari suaka sepakat: siapa pun kecuali Trump. "Saya tidak tahu semua proposal kebijakan dari kandidat lain yang bukan Trump, tapi saya tahu dia tidak berpikir dengan cara yang sama," kata Santos, seorang pencari suaka Honduras di kota barat Tijuana yang menolak memberikan nama belakangnya. Dia mengatakan telah mendorong semua anggota keluarganya di AS untuk memberikan suara yang tidak memilih Trump.

Banyak pencari suaka, termasuk Santos, mengungkapkan kemarahan tidak hanya atas "Tetap di Meksiko." Meraka juga marah atas masalah terkait imigrasi lainnya terutama pemisahan keluarga.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA