Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Jangan Pernah Bangga dengan Maksiat, Ini Ganjarannya Kelak

Senin 02 Nov 2020 23:59 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Nashih Nashrullah

Allah SWT akan membalas mereka yang berbangga dengan maksiat Ilustrasi doa

Allah SWT akan membalas mereka yang berbangga dengan maksiat Ilustrasi doa

Foto: EPA-EFE/FAROOQ KHAN
Allah SWT akan membalas mereka yang berbangga dengan maksiat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Ada saja orang yang secara terang-terangan mengumbar perbuatan dosanya kepada orang lain dengan perasaan bangga. Tidak jarang mereka mengakuinya dan berbangga diri dengan ditunjukkan di berbagai platform media baik televisi hingga media sosial.

Padahal perbuatan ini merupakan salah satu yang dibenci Allah SWT. Orang-orang yang berbangga diri ini akan diberikan balasan yang pedih saat di akhirat kelak. Hal ini sebagaimana penegasan dalam kitab Nashaaihul Ibad karya Syekh Muhammad Nawawi ibnu Umar al-Jawi 

Diriwayatkan sebagian ahli zuhud, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya: "Barangsiapa yang merasa bangga dengan perbuatan dosanya maka Allah SWT akan melemparkannya ke dalam neraka dalam keadaan ketakutan. Dan barangsiapa yang bersedih terhadap ketaatan yang dilakukannya maka Allah akan memasukannya ke dalam surga dalam keadaan bahagia."  

Baca Juga

Syekh Muhammad Nawawi ibnu Umar al-Jawi menjelaskan, hadist tersebut menunjukkan barangsiapa yang bangga setelah berbuat dosa, merasa senang demgan perbuatannya itu meskipun tahu harus menanggung dosanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka sedang dia dalam keadaan ketakutan. Karena seharusnya ia merasa sedih dengan dosanya itu dan takut seraya memohon ampun kepada Allah agar dosanya diampuni.  

Adapun orang-orang yang berbuat ketaatan dengan disertai perasaan sedih karena takut kepada Allah karena telah meremehkan apa yang telah diwajibkannya, maka ia akan memasuki surga dengan penuh rasa kebahagiaan. Orang yang melakukan ini juga disebut sebenarnya sudah memenuhi dua kebajikan, yakni ketaatannya sendiri dan rasa penyesalan atas dosa yang telah diperbuatnya.  

Karena demikian, perbuatan dosa seharusnya disertai dengan penyesalan dan mengharap ampunan kepada Allah SWT. Bukan dengan mengumbarnya di hadapan manusia dengan anggapan bahwa perbuatannya ini keren atau hebat. Rasulullah SAW bersabda:  

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti ketika duduk di bawah gunung, dia takut kalau gunung tersebut jatuh menimpanya. Adapun orang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat (terbang) di depan hidungnya.” (HR Bukhari).

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA