Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Umat Islam di Prancis, Korban Stigmaisasi dan Sekularisme?

Senin 02 Nov 2020 23:10 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Nashih Nashrullah

Prancis dinilai sebagai rumah yang tak lagi nyaman buat umat Islam Seorang warga Muslim berjalan melewati tulisan penghinaan rasial yang dilukis di dinding masjid di kota Saint-Étienne di Prancis tengah.

Prancis dinilai sebagai rumah yang tak lagi nyaman buat umat Islam Seorang warga Muslim berjalan melewati tulisan penghinaan rasial yang dilukis di dinding masjid di kota Saint-Étienne di Prancis tengah.

Foto: google.com
Prancis dinilai sebagai rumah yang tak lagi nyaman buat umat Islam

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS— Muslim Prancis mengungkapkan kekhawatiran yang terus meningkat selama beberapa pekan terakhir. Sorotan kecurigaan yang diarahkan pada mereka semakin terasa setelah serangan yang menewaskan Samuel Paty, disusul pernyataan Presiden Emmanuel Macron yang berupaya 'membersihkan' Islam di Prancis dari para ekstremis, atau istilah yang dia sebut sebagai separatisme Islam.

Di tengah meningkatnya tuduhan dan serangan baru oleh orang luar, termasuk pembunuhan tiga orang pada hari Kamis (29/10) di sebuah Gereja Katolik di Nice, posisi Muslim di Prancis semakin terpojokkan. Namun di antara sekian banyak Muslim Prancis yang memilih menundukkan kepala, ada pula yang memilih untuk melawan stigma negatif yang ditargetkan pada Islam.

Hicham Benaissa, sosiolog Islam mengatakan bahwa keadaan Prancis semakin memburuk bagi umat Muslim. Bahkan dalam beberapa komunitas Islam, pembicaraan tentang meninggalkan Prancis mulai terdengar.

Baca Juga

“Ini mengkhawatirkan bagi umat Islam. Situasinya tegang. Ada ketakutan," kata Hicham yang dikutip di Times of Israel, Selasa (2/11).

Meski menjadi agama terbesar kedua di Prancis, dan merupakan populasi Muslim terbesar di Eropa Barat, namun diperkirakan 5 juta Muslim di negara itu masih harus berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan penuh dari lingkungannya. Diskriminasi masih membayangi Muslim Prancis sekaligus menambah beban hidup mereka yang sejatinya sudah cukup berat.

Sistem sekularisme yang awalnya ditujukan untuk menjamin kebebasan beragama, dalam beberapa tahun terakhir dijadikan tameng untuk membatasi bahkan mengubah nilai-nilai keagamaan. Rencana "separatisme" Macron sendiri, mencakup perombakan sebagian dari cara Islam diatur di Prancis, dari pelatihan para imam hingga manajemen asosiasi Muslim.

Alhasil seruan boikot produk Prancis bermunculan di negara-negara Muslim yang menjadi pasar ekspor terbesar Prancis. Macron diklaim sebagai penyebar sentimen anti-Muslim, terutama saat memuji guru yang dipenggal di dekat Paris, dengan membela hak Prancis untuk membuat karikatur Nabi Muhammad.

Samuel Paty, seorang guru sejarah di Paris, pada 16 Oktober menjadi korban penyerangan oleh seorang pengungsi remaja asal Chechnya karena menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya. Kejadian ini disusul serangan yang menewaskan tiga orang di sebuah gereja di kota selatan Nice, yang diduga dilakukan oleh seorang pemuda Tunisia.

Serangkaian pertumpahan darah ini sejatinya telah terjadi sejak Januari 2015, tepatnya saat Charlie Hebdo, sebuah majalah Prancis memasang karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad di sampul mereka. Akibatnya, 12 orang pekerja terbunuh. Serangan selanjutnya terjadi 25 September lalu, seorang pengungsi asal Pakistan dilaporkan melukai dua orang di lokasi bekas kantor Charlie Hebdo.  

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA