Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Kenaikan Harga Bawang Merah dan Cabai Merah Sebabkan Inflasi

Senin 02 Nov 2020 16:17 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kenaikan harga bawang merah dan cabai merah di berbagai daerah menjadi faktor utama terjadinya inflasi 0,07 persen pada bulan lalu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kenaikan harga bawang merah dan cabai merah di berbagai daerah menjadi faktor utama terjadinya inflasi 0,07 persen pada bulan lalu.

Foto: Edi Yusuf/Republika
Kenaikan harga cabai merah terjadi di 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kenaikan harga bawang merah dan cabai merah di berbagai daerah menjadi faktor utama terjadinya inflasi 0,07 persen pada bulan lalu. Sementara andil bawang merah mencapai 0,09 persen, komoditas bawang merah memberikan kontribusi 0,02 persen terhadap inflasi Oktober.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, kenaikan harga cabai merah terjadi di 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dipantau BPS. Kenaikan tertinggi terjadi di Bulukumba, Sulawesi Selatan, yaitu hingga 85 persen. Sementara itu, bawang merah mengalami kenaikan harga di 70 kota IHK dengan Lhokseumawe menjadi kota yang mencatatkan kenaikan tertinggi, sampai 33 persen.

Tren kenaikan ini yang menyebabkan kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sampai 0,29 persen pada Oktober. "Sumbangan inflasinya terbesar, hingga 0,07 persen," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Senin (2/11).

Kondisi cuaca yang tidak terlalu berpihak untuk masa panen menjadi faktor utama kenaikan harga bawang merah dan cabai merah. Suhariyanto menuturkan, curah hujan yang tinggi berdampak pada produksi dan kualitas dua komoditas tersebut.

Di sisi lain, BPS juga mencatat adanya penurunan harga untuk beberapa komoditas dalam kelompok makanan, minuman dan tembakau. Di antaranya, telur ayam ras yang memberikan andil deflasi 0,02 persen. Selain itu, daging ayam ras dan beberapa jenis buah-buahan yang masing-masing memberikan andil deflasi 0,01 persen. 

Kenaikan dan penurunan harga sejumlah komoditas ini yang juga menyebabkan komponen harga bergejolak menjadi penyumbang terbesar inflasi bulan lalu. Tingkat inflasi komponen ini tercatat mencapai 0,40 persen dengan andil ke inflasi Oktober sebesar 0,07 persen. Khusus untuk komponen bahan makan, tingkat inflasinya 0,38 persen dengan kontribusi 0,07 persen.

Gejolak harga komponen bahan makanan ini patut diwaspadai mengingat curah hujan yang masih tinggi hingga akhir tahun sebagai dampak La Nina. "Untuk sayuran, harus berhati-hati. Kalau tidak, akan terjadi fluktuasi harga seperti cabai merah dan bawang merah," kata Suhariyanto.

Secara umum, Indonesia mengalami inflasi 0,07 persen pada bulan lalu. Ini menjadi inflasi pertama setelah terjadi deflasi selama tiga bulan berturut-turut.

Tingkat inflasi tahun kalender 2020 (Oktober 2020 terhadap Desember 2019) mencapai 0,95 persen. Sementara itu, inflasi dari tahun ke tahun (Oktober 2020 terhadap Oktober 2019) berada di level 1,44 persen.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA