Senin 02 Nov 2020 11:37 WIB

PM Israel Netanyahu Puji Kebijakan Timur Tengah Donald Trump

Dukungan bipartisan AS telah menjadi salah satu dasar aliansi Amerika-Israel.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini
Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam upacara penandatanganan Kesepakatan Abraham di Halaman Selatan Gedung Putih, Selasa, 15 September 2020, di Washington.
Foto: AP/Alex Brandon
Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam upacara penandatanganan Kesepakatan Abraham di Halaman Selatan Gedung Putih, Selasa, 15 September 2020, di Washington.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji kebijakan Timur Tengah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pujian itu disampaikan saat AS hendak menghelat pilpres pada Selasa (3/11). 

Netanyahu mengungkapkan dukungan bipartisan AS telah menjadi salah satu dasar aliansi Amerika-Israel. Aliansi itu tidak pernah lebih kuat sebelumnya. 

Baca Juga

Dia kemudian menyinggung kebijakan-kebijakan pemerintahan Trump yang mendukung posisi Israel. Kebijakan itu antara lain mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, merestui klaim kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, pendekatan toleran terhadap proyek permukiman di wilayah pendudukan, dan peran AS dalam proses normalisasi diplomatik dengan Bahrain, Sudan, dan Uni Emirat Arab (UEA). 

Netanyahu pun memuji sikap keras pemerintahan Trump terhadap Iran. "Saya hanya bisa berharap bahwa kebijakan yang membawa, yang mengisolasi Iran dan membawa buah perdamaian, perdamaian yang didasarkan pada kenyataan bagi rakyat Israel, kepada rakyat Arab di kawasan ini, saya hanya dapat berharap bahwa kebijakan ini akan terus berlanjut di  tahun-tahun mendatang," Netanyahu pada Ahad (1/11). 

Dalam perpolitikan AS, Netanyahu sering dianggap berpihak pada Partai Republik. Meskipun dukungan tersebut tidak pernah secara eksplisit diungkapkan. Seperti saat ini, Netanyahu tidak secara gamblang menyatakan bahwa dia mendukung Trump daripada capres dari Partai Demokrat Joe Biden. 

Sebelum Trump terpilih sebagai presiden, Netanyahu memiliki hubungan yang dingin dengan pemerintahan Barack Obama. Netanyahu pun sempat mengkritik dan menentang kesepakatan nuklir Iran yang tercapai di bawah kepemimpinan Obama. 

Pada masa pemerintahan Trump, AS mundur dari kesepakatan nuklir Iran. Trump pun memberlakukan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran. Netanyahu memuji langkah Trump tersebut. 

Meskipun Trump populer di kalangan publik Israel, hubungan dekatnya dengan Netanyahu tampaknya memperdalam perpecahan orang-orang Yahudi Amerika. Jajak pendapat menunjukkan bahwa orang Yahudi Amerika akan memberikan suara terbanyak untuk mendukung Joe Biden. 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement