Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Siaga Ancaman China, Taiwan Semakin Mesra dengan AS

Ahad 01 Nov 2020 21:17 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen

Foto: AP Photo/Chiang Ying-ying
Taiwan akan meningkatkan pertahanan diri di tengah serangan pesawat militer China

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan negaranya meningkatkan hubungan dengan Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya jumlah serangan pesawat militer China, Sabtu (31/10) waktu setempat. Berbicara pada pertemuan Dewan Keamanan Nasional, Tsai menginstruksikan pemerintah untuk meningkatkan kemampuan pertahanan diri dan menstabilkan tatanan ekonomi dan sosial, bersama dengan peningkatan pengumpulan intelijen.

"Bangsa ini harus memodernisasi kemampuan pertahanannya, meningkatkan kemampuan tempur asimetrisnya, mempromosikan pengembangan senjata dalam negeri, dan mereformasi pasukan cadangannya untuk bersiap menghadapi ekspansi dan agresi militer Beijing," kata Tsai dalam laporan Taipei Times dikutip laman Hindustan Times, Ahad (1/11).

Presiden juga menginstruksikan dewan, Kementerian Luar Negeri, dan Kantor Perwakilan Ekonomi dan Kebudayaan Taipei di AS untuk mempertahankan dukungan dari Partai Demokrat, serta dari Partai Republik. Tsai menyarankan pemerintah untuk mengikuti jejak Perdana Menteri Su Tseng-chang yang mengerjakan Dialog Ekonomi dan Komersial Taiwan-AS, perjanjian perdagangan bilateral, dan negosiasi dengan AS mengenai Perjanjian Kerangka Kerja Perdagangan dan Investasi (TIFA) terkait pertemuan Taiwan-AS tentang TIFA yang ditangguhkan sejak 2017.

Baca Juga

"Kabinet harus memanfaatkan kerangka kerja Taiwan-AS untuk memperkuat pembiayaan infrastruktur dasar dan kerja sama pembangunan pasar yang ditandatangani pada September untuk mempromosikan kerja sama rantai pasokan di negara-negara Kebijakan New Southbound, serta, negara-negara Amerika Tengah dan Selatan," kata Tsai di rapat dewan.

Presiden juga meminta lembaga ekonomi dan keuangan untuk memantau dengan cermat perubahan ekonomi global setelah pemilihan AS, meningkatkan bantuan untuk industri yang terpukul parah oleh Covid-19, dan melaksanakan investasi besar dan proyek pembangunan infrastruktur. Tsai mengatakan, menstabilkan hubungan lintas selat merupakan kepentingan bersama dari kedua sisi Selat Taiwan.

Menurutnya, kedua belah pihak harus membahas bagaimana hidup berdampingan secara damai berdasarkan saling menghormati dan pengertian. Tsai juga menambahkan bahwa Taiwan bersedia untuk mendorong percakapan yang bermakna berdasarkan paritas dan martabat.

"Mudah-mudahan, Beijing akan membantu membuat percakapan seperti itu segera terjadi," ujarnya dikutip laman Taipei Times. Tsai juga meminta kepada Badan Kepolisian dan Administrasi Penjaga Pantai untuk menjaga ketertiban sosial, mencegah penyebaran informasi yang salah dan meningkatkan perlindungan keamanan infrastruktur untuk menjaga demokrasi dan kebebasan bangsa.

Dalam pidatonya untuk memperingati Hari Nasional Taiwan bulan lalu, Tsai mengatakan pemerintah akan terus memodernisasi kemampuan pertahanan pulau itu dan meningkatkan kapasitasnya untuk perang asimetris untuk "menangani ekspansi dan provokasi militer dari sisi lain Selat Taiwan". Peperangan asimetris dirancang untuk membuat serangan China menjadi sulit dan mahal, misalnya dengan ranjau cerdas dan rudal portabel.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA