Ahad 01 Nov 2020 15:32 WIB

Dukung Jokowi, Muslimat NU Desak Presiden Prancis Minta Maaf

Muslimat Nahdalatul Ulama (NU) mengecam pernyataan Presiden Prancis

Rep: jatimnow.com/ Red: jatimnow.com
Muslimat Nahdalatul Ulama (NU) mengecam pernyataan Presiden Prancis
Muslimat Nahdalatul Ulama (NU) mengecam pernyataan Presiden Prancis

jatimnow.com - Muslimat Nahdalatul Ulama (NU) mengecam pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang sudah menyakiti perasaan umat muslim di seluruh dunia.

Muslimat NU menginginkan Macron mencabut pernyataannya dan meminta maaf kepada seluruh umat muslim di dunia. Keinginan itu merupakan salah satu rekomendasi hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Muslimat NU Tahun 2020.

Ketua Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, seharusnya pimpinan negara tidak pantas mengungkapkan hal tersebut. Harusnya pemimpin bisa membangun kehidupan damai, saling menghargai dan menghormati.

"Kami sangat menyesalkan statement Presiden Prancis. Makanya salah satu rekomendasi dalam Rakernas dan Mukernas kami mendorong Presiden Prancis mencabut statement itu dan mengharuskan dia meminta maaf pada umat muslim di dunia," jelas Khofifah usai menutup Rakernas dan Mukernas Muslimat NU di Kota Batu, Minggu (1/11/2020).

Gubernur Jawa Timur ini juga menambahkan, jangan sampai statement itu merusak apa yang sudah dibangun oleh para komunitas pimpinan dunia yang sudah berupaya menjaga kehidupan damai, adil dan penuh pemahaman komprehensif.

"Kami (Muslimat NU) juga sangat mendukung respon Presiden RI Joko Widodo yang ikut mengecam statment tersebut. Meski ada kebebasan berekspresi tapi tak sepatutnya eksperesi itu malah mencederai kehormatan, kesucian serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama. Itu harus dihentikan," tegasnya.

Sebelumnya Macron menyebutkan tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi sehingga memicu kemarahan masyarakat di dunia muslim, salah satunya Indonesia.

Macron dianggap telah menghina umat Islam dan simbolnya setelah menyebut komunitas muslim di negaranya sebagai kelompok separatis.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan jatimnow.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab jatimnow.com.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement