Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

PM Kanada: Kebebasan Berekspresi Ada Batasnya

Ahad 01 Nov 2020 14:12 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Indira Rezkisari

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau

Foto: Justin Tang / The Canadian Press via AP
Kebebasan berekspresi harus dijalankan dengan menghormati orang lain.

REPUBLIKA.CO.ID, OTTAWA -- Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dengan tegas tidak mendukung pernyataan dari Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mengizinkan penerbitan kartun Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekpresi. Menurut Trudeau, tidak ada gunanya melakukan hal-hal yang tidak perlu dan merugikan orang lain.

Sebuah surat kabar, Charlie Hebdo belakangan menjadi dalih di Prancis untuk menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad. Hal itu yang justru memicu aksi teror di Prancis sendiri.

Baca Juga

Beberapa orang meyakini bahwa isyarat itu adalah asal mula serangan pisau di Prancis selama beberapa pekan terakhir. Pemenggalan kepala guru Samuel Paty juga terjadi setelah dia memperlihatkan karikatur nabi kepada murid-muridnya.

Semua ini membuat Emmanuel Macron mengatakan bahwa Prancis tidak akan meninggalkan "karikatur, gambar". Justin Trudeau pun jelas tidak ada di pihaknya.

"Saya akan selalu membela kebebasan berekspresi. Tapi kebebasan berekspresi bukannya tanpa batas," ujar Perdana Menteri Trudeau, dikutip dari The Canadian News.

"Kita tidak berhak, misalnya, berteriak "api" di bioskop yang ramai; selalu ada batasan. Dalam masyarakat yang majemuk, beragam, dan terhormat seperti kita, kita harus menyadari dampak perkataan kita, tindakan kita terhadap orang lain, terutama komunitas dan populasi yang masih mengalami diskriminasi yang sangat besar," ujarnya menambahkan.

Menurut Trudeau, kebebasan berekspresi harus dijalankan dengan menghormati orang lain dan dengan perhatian untuk tidak melukai dengan cara yang sewenang-wenang atau tidak perlu. Perdana Menteri menambahkan bahwa niat karikatur itu, betapapun bagusnya, belum tentu relevan dalam perdebatan.  

"Ini masalah rasa hormat, bukan berusaha merendahkan atau menyakiti secara sengaja," kata dia.

Trudeau menilai, selalu ada debat yang sangat penting, debat sensitif yang bisa didapat tentang kemungkinan pengecualian pada isu-isu di mana individu tidak ingin menyakiti, tetapi seringkali niat kurang penting dan fakta masih bisa menyakiti. Sehingga, dalam masyarakat yang didasarkan pada saling menghormati dan mendengarkan dan belajar, Trudeau mengajak seluruh elemen masyarakat melakukan percakapan kompleks ini secara bertanggung jawab.

Awal pekan ini, pemimpin New Democratic Party (NDP) Kanada, Jagmeet Singh, membuat pernyataan serupa. Menurutnya kebebasan untuk mengekspresikan pikiran bukanlah kebebasan untuk menciptakan perpecahan dengan sengaja. Pemimpin konservatif Erin O'Toole, yang masih belum bersedia untuk ditanyai oleh wartawan, hanya merilis satu video minggu ini.  

"Serangan Islamis lainnya, serangan lain terhadap nilai-nilai kami dan kebebasan kami," katanya.  

"Jika Prancis diserang, semua demokrasi diserang.  Saya ingin mengungkapkan solidaritas saya dengan sekutu Prancis. Teroris tidak akan membuat kita tunduk. Di sini, di Kanada kami akan berjuang untuk menciptakan negara yang bangga dengan prinsip-prinsipnya, keterbukaannya, dan kebebasan berekspresi," kata dia dalam video itu.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA