Sabtu 31 Oct 2020 22:04 WIB

Travel Umroh Apresiasi Penerbangan Perdana Jamaah Indonesia

Jamaah umroh masih memilih untuk menunda beberapa bulan sampai suasana lebih nyaman.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Fakhruddin
Travel Umroh Apresiasi Penerbangan Perdana Jamaah Indonesia (ilustrasi).
Foto: RaesahAlharmin / HO via REUTERS
Travel Umroh Apresiasi Penerbangan Perdana Jamaah Indonesia (ilustrasi).

IHRAM.CO.ID,JAKARTA -- Pengusaha Penyelenggara Perjalanan Umrah (PPIU) Taqwa Tours Rafiq Jauhari menyambut baik kebijakan Arab Saudi telah berikan kesempatan umroh kepada jamaah ndonesia. Selain Indonesia, jamaah negara Pakistan juga diberikan umroh perdana oleh Arab Saudi.

"Kami sebagai pengelola travel umroh bersyukur atas dibukanya kesempatan umroh untuk ummat Islam di luar Saudi, tentu ini nikmat yang besar," katanya saat dihubungi, Sabtu (31/10).

Rafiq mengatakan, pada pembukaan umroh ini kebanyakan yang berangkat adalah pengelola travel umroh, baik pembimbing, tour planner, tour leader, atau bahkan owner travel tersebut. Sementara jamaah, terutama dari daerah belum banyak pesertanya.

"Di antara yang menghalangi jamaah untuk segera berangkat di awal November ini adalah batasan usia, biaya tinggi, resiko penularan dan protokol yang sangat ketat," ujarnya.

Terlebih kata dia, bagi jamaah dari daerah, untuk memenuhi protokol kesehatan seperti swab test, PCR di sana harus berangkat ke Jakarta. Jadi kata dia untuk bisa umrah pada Ahad (1/11) setidaknya dua hari sebelum keberangkatan ada di Jakarta.

Rafiq yang juga pembimbing ibadah haji ini berharap Covid-19 segera berakhir dan umroh kembali normal tanpa ada persyaratan ketat. Sehingga jamaah umroh yang usianya sudah tua bisa berangkat umrah. 

"Harapannya semoga awal 2021 Covid-19 sudah lebih terkendali, protokol kesehatan sudah lebih dilonggarkan," katanya.

Rafiq mengaku, jamaah yang sudah mendaftar di travelnya masih banyak tidak bisa berangkat, karena tidak memenuhi syarat dan regulasi yang diberlakukan Arab Saudi. Di antara regulasi yang mesti dipatuhi di antarnya usia 18-50, menyiapkan hasilnya PCR 72 jam sebelum penerbangan dan karinta di Tanah Suci selama 3 hari. "Kami yang tertunda keberangkatannya saja ada 200-an jamaah, tapi yang lolos kriteria usia hanya sekitar 10%."

Jadi kata Rafiq, ketika jamaah ditawari berangkat dengan protokol ketat dan biaya mendekati 40 juta, banyak jamaah mengurungkan niat. Mereka lebih memilih berangkat umroh di masa normal daripada di masa pandemi.

"Mereka masih memilih untuk menunda beberapa bulan sampai suasana lebih nyaman," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement