Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Seberapa Amankah Perjalanan Udara Selama Pandemi Covid-19?

Jumat 30 Oct 2020 22:39 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) melakukan validasi surat kesehatan penumpang di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), Kulonprogo, Yogyakarta, Selasa (6/10). Validasi surat kesehatan ini memastikan bahwa calon penumpang pesawat benar-benar negatif Covid-19. Surat kesehatan ini berupa hasil Rapid Tes atau SWAB calon penumpang.

Foto:
Sebuah penerbangan ke Irlandia digambarkan sebagai penyebab 59 kasus corona baru.

Pada 8 Oktober lalu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), mengatakan bahwa “risiko seorang penumpang tertular COVID-19 saat berada di dalam pesawat tampak sangat rendah.”

Penasihat Medis IATA David Powell, mengatakan bahwa hanya ada 44 kasus potensial penularan terkait penerbangan yang teridentifikasi di antara 1,2 miliar penumpang. Artinya satu kasus untuk setiap 27 juta penumpang.

“Kami menyadari bahwa ini angka yang terlalu kecil, tetapi kalaupun ada 90 persen kasus yang tidak dilaporkan, perbandingannya akan menjadi 1 kasus untuk setiap 2,7 juta penumpang. Kami pikir angka-angka ini sangat meyakinkan,” ujarnya.

Penelitian lebih lanjut tentang penularan dalam penerbangan
Sebuah artikel di MIT Medical, yang berasosiasi dengan Institut Teknologi Massachusetts (MIT), mengatakan bahwa kualitas udara pada penerbangan komersial “cukup tinggi” karena diperbarui secara teratur setiap lima menit.

Sirkulasi udara di pesawat bergerak dari atas ke bawah dan kemudian keluar. Udara memasuki kabin melalui ventilasi di atas kepala dan keluar melalui lantai. Sebagian dari udara itu dibuang ke luar dan sisanya disaring menggunakan sistem seperti di rumah sakit yang dikenal sebagai filter udara partikulat efisiensi tinggi atau HEPA filter.

Udara yang terfilter itu kemudian bercampur dengan udara segar dari luar pesawat sebelum kemudian masuk ke dalam kabin.

Namun, sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan oleh PNAS – jurnal resmi Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional AS - menunjukkan bahwa penumpang dan kru pesawat yang bergerak melalui kabin selama penerbangan “dapat memfasilitasi penularan penyakit”.

Hal ini menunjukkan bahwa risikonya tidak hanya terletak pada tempat Anda duduk atau jarak sosial dari orang yang terinfeksi saja, tapi juga dari aktivitas Anda bangun atau pergi ke toilet, meregangkan kaki atau berbicara dengan teman dan keluarga yang duduk di tempat lain.

Penulis studi tersebut menuliskan bahwa “dengan lebih dari 3 miliar penumpang maskapai penerbangan setiap tahun, penularan penyakit menular dalam pesawat merupakan masalah kesehatan global yang penting.” Tetapi mereka menambahkan penjelasannya dengan mengatakan bahwa “risiko penularan tidak diketahui.”

Perlu dicatat bahwa itu adalah studi dua tahun lalu. Sejak saat itu, pengetahuan tentang penyakit pernapasan, seperti novel coronavirus, baik terkait risiko dan jalur penularannya, sudah semakin berkembang.

Saat ini kita masih menghadapi pandemi yang tampaknya kerap berubah di depan mata saat kita mengalaminya. Jadi, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah memperlakukan semua data baru sebagai “hal untuk dikonfirmasi.”

Salah satu contoh adalah data yang dirilis oleh Departemen Pertahanan AS pada awal Oktober lalu. Data tersebut menunjukkan bahwa risiko paparan virus corona dalam penerbangan rendah.

Studi yang dilakukan pada pesawat United Airlines Boeing 777 dan Boeing 767 itu menemukan bahwa meskipun rata-rata 0,003 persen partikel udara di dalam zona pernapasan di sekitar kepala seseorang dapat menular bahkan dengan masker wajah, 99,99 persen partikel sejatinya disaring dari sirkulasi udara di kabin dalam waktu enam menit.

Seorang juru bicara United Airlines bahkan menggambarkan kemungkinan paparan virus corona di salah satu pesawat mereka “hampir tidak ada bahkan jika penerbangan penuh”.

Boeing juga kerap mempromosikan eksperimen pembersihan tertentu yang telah mereka lakukan, misalnya bekerja sama dengan Universitas Arizona. Salah satunya adalah penggunaan semprotan disinfektan elektrostatis dan “tongkat ultraviolet” untuk membunuh virus di sandaran tangan, meja, bagasi kabin bagian atas, dan pegangan toilet.


sumber: https://www.dw.com/id/seberapa-amankah-perjalanan-udara-selama-covid-19/a-55444401

sumber : DW
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA