Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Studi Temukan 3 Obat Berpotensi Bantu Atasi Covid-19

Kamis 29 Oct 2020 18:39 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Obat-obatan (Ilustrasi). Obat antimalaria amodiaquine, antipsikotik zuclopenthixol, dan obat tekanan darah nebivolol tampak berpotensi efektif mengatasi Covid-19 saat dikombinasikan dengan remdesivir atau obat antivirus favipiravir.

Obat-obatan (Ilustrasi). Obat antimalaria amodiaquine, antipsikotik zuclopenthixol, dan obat tekanan darah nebivolol tampak berpotensi efektif mengatasi Covid-19 saat dikombinasikan dengan remdesivir atau obat antivirus favipiravir.

Foto: Republika/Prayogi
Obat untuk penyakit lain tampak potensial untuk membantu mengatasi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sebuah studi baru, para ilmuwan menemukan tiga obat yang mungkin efektif untuk mengatasi infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) pada tahap awal. Penelitian diterbitkan di jurnal ACS Pharmacology & Translational Science yang dapat membantu peneliti mengidentifikasi kandidat pengobatan untuk uji klinis.

Virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan penyakit Covid-19 telah menjadi pandemi dunia sejak Maret lalu. Wabah berdampak besar tak hanya pada kesehatan masyarakat, namun juga ekonomi global, budaya, kehidupan sehari-hari.

Hingga saat ini, tercatat lebih dari 1.150.000 kematian akibat Covid-19. Ada juga bukti anekdotal yang meningkat tentang efek kesehatan negatif dalam jangka panjang dapat terjadi pada orang yang pulih.

Fakta bahwa Covid-19 sangat menular membuat  para ilmuwan bergegas untuk mengembangkan vaksin. Akan tetapi, memproduksi vaksin yang juga aman dan efektif membutuhkan waktu yang cukup lama.

Dilansir Medical News Today, menurut laporan yang dimuat di The Lancet, pengembangan vaksin secara rata-rata membutuhkan waktu hingga 10 tahun. Bahkan, meski para ahli yang mempercepat penelitian karena urgensi pandemi global, laporan tersebut mencatat bahwa vaksin awal mungkin membutuhkan waktu lebih dari 18 bulan untuk dikembangkan, diproduksi, dan didistribusikan kepada orang-orang di seluruh dunia.

Para ilmuwan telah meneliti vaksin dan pengobatan potensial yang pada akhirnya dapat mengurangi kemungkinan seseorang meninggal jika terkena Covid-19. Ini biasanya melibatkan penggunaan kembali obat yang sebelumnya tersedia yang mungkin juga efektif dalam mengobati Covid-19.

Hal itu sangat penting karena seperti halnya mengembangkan vaksin yang berfungsi, menemukan obat baru yang dapat mengobati Covid-19 mungkin membutuhkan waktu lama. Hingga saat ini, satu-satunya obat yang digunakan kembali yang menunjukkan tanda-tanda efektif adalah remdesivir yang awalnya dikembangkan untuk mengobati Ebola pada 2014.

Namun, penelitian besar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum lama ini menemukan bahwa remdesivir tidak berpengaruh signifikan dalam mengurangi jumlah kematian akibat Covid-19. Karena itu, perlu secepatnya untuk mengidentifikasi obat efektif yang dapat digunakan kembali oleh para ahli untuk mengobati Covid-19.

Dalam konteks ini, para ilmuwan di balik penelitian ini mengambil pendekatan berbeda dalam mencari obat yang berpotensi efektif untuk digunakan kembali. Biasanya, saat para ilmuwan mencari obat untuk digunakan kembali, mereka menggunakan teknik yang disebut skrining throughput tinggi (HTS).

Hal itu melibatkan otomatisasi pengujian berbagai obat agar memungkinkan proses yang jauh lebih cepat daripada menggunakan tim manusia. Peneliti kemudian menganalisis hasilnya dengan komputer.

Namun, menurut tim studi saat ini, mungkin ada masalah dengan keandalan dan akurasi HTS. Berdasarkan artikel di jurnal Patterns, peneliti mencatat bahwa hanya ada sedikit tumpang tindih dalam obat yang berpotensi efektif yang diidentifikasi dalam studi HTS.

Sebaliknya, dalam penelitian mereka, para ilmuwan menggunakan protokol skrining virtual berbasis ligan (LBVS) untuk mengidentifikasi obat yang mungkin bertindak serupa dengan obat hydroxychloroquine. Studi menunjukkan hydroxychloroquine efektif melawan SARS-CoV-2 dalam percobaan tabung, bahkan jika itu tidak mungkin efektif dalam kehidupan nyata.

Satu hal yang penting, para ilmuwan memverifikasi temuan mereka dalam eksperimen tabung reaksi dan kemudian hasilnya diuji secara independen untuk memastikan temuan mereka akurat. Setelah menggunakan LBVS untuk mempelajari sekitar 4.000 obat, kemudian memverifikasi temuan mereka, para ilmuwan mengidentifikasi tiga obat yang mungkin efektif melawan Covid-19 dan dapat dijadikan subjek uji klinis.

Obat tersebut adalah obat antimalaria amodiaquine, antipsikotik zuclopenthixol, dan obat tekanan darah nebivolol. Para ilmuwan percaya bahwa ini mungkin sangat efektif jika dikombinasikan dengan remdesivir atau obat antivirus favipiravir.

"Anggap saja sebagai permainan "whac-a-mole". Alih-alih memiliki satu palu, Anda memiliki dua palu yang lebih efektif. Kami mencoba memberi komunitas ilmiah dua palu, bukan satu,” ujar Tudor Oprea, penulis studi senior dan profesor Ilmu Kedokteran dan Farmasi serta kepala Divisi Informatika Translasional Universitas New Mexico.

Seperti yang diperlihatkan oleh remdesivir dan hydroxychloroquine, obat-obat yang disebutkan kali ini mungkin efektif dalam tabung reaksi, tetapi tidak efektif dalam kehidupan nyata. Namun, dalam kasus yang terakhir, risiko pengobatan mungkin lebih besar daripada manfaatnya.

Meskipun demikian, jika para ilmuwan dapat mengidentifikasi pengobatan Covid-19 yang efektif, itu dapat sangat mengurangi tingkat kematian akibat pandemi saat ini. Oleh karena itu, langkah pertama untuk memulainya adalah dengan mengidentifikasi calon pengobatan potensial.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA