Wednesday, 22 Safar 1443 / 29 September 2021

Wednesday, 22 Safar 1443 / 29 September 2021

KLHK: Perlu Upaya Ekstra Budidaya Padi di Lahan Gambut

Selasa 27 Oct 2020 17:50 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Fuji Pratiwi

Warga menyiram tanaman kangkung miliknya di bekas lahan gambut (ilustrasi). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengingatkan perlunya upaya ekstra dalam membudidayakan padi di lahan gambut.

Warga menyiram tanaman kangkung miliknya di bekas lahan gambut (ilustrasi). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengingatkan perlunya upaya ekstra dalam membudidayakan padi di lahan gambut.

Foto: Antara/Syifa Yulinnas
Lahan gambut minim kandungan hara dan kurang mendukung pertumbuhan padi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengingatkan perlunya upaya ekstra dalam membudidayakan padi di lahan gambut. Sebab, lahan gambut minim kandungan hara dan kurang mendukung pertumbuhan padi.

"Untuk tanaman pangan yang bukan endemik di lahan gambut butuh upaya ekstra untuk mencapai intensifikasi (peningkatan produktivitas)," kata Direktur Pengendalian Kerusakan Gambut, KLHK, Sri Parwati Murwani Budi Susanti, dalam sebuah webinar, Selasa (27/10).

Baca Juga

Sri menegaskan, budidaya padi di lahan gambut harus memenuhi kaidah fungsi ekosistem gambut. Hal itu telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Seluruh regulasi mengenai gambut, telah diterbitkan demi memastikan tidak adanya perusakan lingkungan.

Terkait proyek lumbung pangan atau food estate Kalimantan Tengah, Sri mengatakan, KLHK telah mendukung penyusunan dokumen lingkungan dan penyiapan program yang harus dilalui. Dengan begitu, upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan dalam negeri di atas lahan gambut bisa dicapai tanpa mengorbankan kelesterarian ekosistem gambut.

Menurut dia, terdapat tiga hal penting yang harus dilakukan. Tata kelola air di lahan gambut, rehabilitasi, serta penguatan peran masyarakat setempat untuk fungsi ekonomi dan sosial dengan kapasitasn pengetahuan yanng mencukupi.

"Intinya bagaimana agar kita bisa memantau kebasahan gambut dan kami sudah sudah punya data di seluruh lahan gambut di Indonesia," ujar Sri.

Sementara itu, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Kementan, Edy Purnawan, mengakui, pengembangan padi di lahan gambut khususnya di Kalimantan Tengah memang memiliki tantangan berat. Perlu kehati-hatian agar pangan yang ditanam bisa diproduksi.

"Tantangannya ada pada unsur pH yang rendah dan minimal dan juga perlu perbaikan infrastruktur," ujar Edy.

Ia menambahkan, pengembangan food estate itu harus dimulai dengan pemilihan lahan gambut yang dangkal dan tidak membahayakan ekosistem. Sedangkan lahan gambut kategori sedang dan dalam disarankan untuk direhabilitasi dan ditanami dengan tanaman tahunan.

Selanjutnya, lahan gambut yang dangkal pun dipilah dengan kawasan yang mempunyai alur sungai. Hal itu memudahkan dalam menjaga aliran air ke sungai serta memudahkan dalam proses pencucian pirit atau oksida besi. Hal itu merupakan salah satu dari sejumlah langkah yang dibutuhkan agar tanaman padi yang ditanam bisa menghasilkan gabah dan perlahan menaikkan produksinya.

"Pengalaman kami dengan pencucian pirit yang efektif itu bisa meningkatkan produksi dari 6 ton per hektare menjadi 8 ton per hektare. Intinya memperbaiki tata air karena itu yang paling efektif," kata Edy.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA