Friday, 12 Rajab 1444 / 03 February 2023

Kasus Kecemasan Dominasi Layanan Konsultasi Psikologi

Ahad 25 Oct 2020 11:30 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Reiny Dwinanda

Gangguan kecemasan (Ilustrasi). Secara umum, kemampuan orang untuk meningkatkan regulasi diri pun berbeda-beda.

Gangguan kecemasan (Ilustrasi). Secara umum, kemampuan orang untuk meningkatkan regulasi diri pun berbeda-beda.

Foto: Pixabay
Gejala kecemasan wajar terjadi di masa pandemi Covid-19, namun perlu diatasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi Covid-19 memberikan dampak baru bagi kehidupan banyak orang. Sebagian orang yang merasa kurang bisa beradaptasi dapat mengalami penurunan kesehatan mental.

Menurut psikolog yang merupakan ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia, Dr Indria Laksmi Gamayanti, berdasarkan data yang dihimpun dari psikolog-psikolog yang menerima layanan selama pandemi, kecemasan adalah kasus yang paling banyak dikeluhkan saat pandemi.

Baca Juga

"Sementara laporan dari teman-teman yang melakukan pelayanan, jumlah yang paling banyak, para pasien banyak mengeluhkan itu kecemasan, gangguan suasana hati, kecenderungan ke arah somatis, dan sulit tidur," ungkap Gama beberapa waktu lalu.

Menurut Gama, gejala-gejala tersebut di atas cukup banyak terjadi dan sangat wajar terjadi di masa banyak perubahan seperti saat ini. Banyak orang saat ini juga mengalami kesepian, yang berujung ke kecemasan.

"Saya kira memang situasi ini memang menyeluruh dan perlu kita antisipasi bersama," tutur dia.

Adanya gejala stres yang muncul di masa pandemi juga merupakan reaksi yang wajar di situasi yang tidak wajar seperti saat ini. Secara umum, kemampuan orang untuk meningkatkan regulasi diri pun berbeda-beda.

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk tetap sehat secara mental agar tidak merasa kesepian adalah terus menjalin hubungan dengan orang-orang tercinta dan teman-teman. Hal itu juga bisa dilakukan dengan cara melalui telepon atau secara virtual.

"Kita juga perlu mengembangkan inovasi-inovasi, yang biasanya hang out, nongkrong di kafe, sekarang bisa kita ganti bersama minum kopi, tapi di tempat masing-masing. Jadi masih bisa untuk mengobrol," jelas Gama.

Lebih lanjut, Gama juga menyarankan untuk tetap beraktivitas dan produktif yang dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya, memasak, olahraga, menyanyi.

Menonton, membaca, dan mengetahui hal-hal yang tidak perlu tidak disarankan oleh Gama. Dia lebih merekomendasikan film-film yang menyenangkan untuk ditonton di masa pandemi, agar kita bisa tertawa dan menaikkan mood kita.

"Hal yang cukup penting adalah relaksasi. Hal ini bisa mendorong orang untuk bisa berpikir lebih positif saat menjalani masa yang sama-sama kita tidak inginkan," tutur Gama.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA