Thursday, 24 Ramadhan 1442 / 06 May 2021

Thursday, 24 Ramadhan 1442 / 06 May 2021

Benarkah Pengeroposan Tulang pada Lansia Itu Normal?

Ahad 25 Oct 2020 08:10 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Kegiatan olahraga rutin diharapkan dapat meningkatkan kesehatan lansia. Tidak benar bila osteoporosis hanya dianggap sebagai penyakit yang mengenai lansia.

Kegiatan olahraga rutin diharapkan dapat meningkatkan kesehatan lansia. Tidak benar bila osteoporosis hanya dianggap sebagai penyakit yang mengenai lansia.

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Pengeroposan tulang kerap dianggap sebagai penyakit orang tua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengeroposan tulang atau osteoporosis sering kali dipandang sebagai "penyakit orang tua". Oleh karena itu, sebagian orang menganggap hal yang wajar bila lansia mengalami osteoporosis.

Anggapan ini merupakan mitos yang masih cukup banyak diyakini oleh masyarakat awam. Faktanya, kepadatan tulang memang akan menurun seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Namun, bukan berarti bahwa semua orang yang lanjut usia akan mengalami osteoporosis.

"Ada (lansia) yang tetap sehat tulangnya," ujar Pakar Gizi Medik FKUI-RSCM Prof Dr dr Saptawati Bardosono MSc, dalam virtual media briefing Perempuan Indonesia Cegah Osteoporosis bersama CDR.

Selain itu, tidak benar bila osteoporosis hanya dianggap sebagai penyakit yang mengenai lansia. Berdasarkan penelitian di Arab Saudi, lanjut Prof Saptawati, sekitar TIGA persen perempuan muda sudah terkena osteoporosis.

Prof Saptawati mengatakan, ada beragam faktor yang dapat membuat kelompok muda terkena osteoporosis lebih dini. Beberapa di antaranya adalah akibat kondisi medis seperti rheumatoid arthritis, malabsorpsi, serta konsumsi obat yang dapat menyebabkan hilangnya massa tulang, seperti glucocorticoids.

"Jadi bukan berarti yang muda tidak mengalami (osteoporosis)," JELAS Prof Saptawati.

Head of Medical Consumer Health Bayer Indonesia dr Suci Sutina mengungkapkan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan tulang. Salah satunya adalah mendapatkan asupan kalsium dan vitamin yang cukup.

Kalsium merupakan mineral yang memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan dan kekuatan tulang. Sedangkan vitamin D berperan dalam mengoptimalkan penyerapan kalsium di dalam tubuh.

Selain itu, dr Suci juga menyarankan penerapan pola makan seimbang gizi dengan asupan protein yang emmadai. Penting pula untuk menjaga berat badan tetap sehat karena berat badan yang kurang dapat meningkatkan risiko osteoporosis.

Latihan menahan beban juga dapat membantu membangun massa tulang. Latihan menahan beban ini bisa berupa jalan kaki, lari, latihan kekuatan, hingga menari.

Terkait gaya hidup, dr Suci menyarankan untuk menghindari kebiasaan merokok dan minum alkohol serta konsumsi garam dan kafein berlebih. Hal-hal ini dapat menghambat kerja sel pembangun tulang dan meningkatkan risiko patah tulang.

"CRD menekankan pentingnya pencegahan dini, hidup sehat, dan konsumsi kalsium dan vitamin D, sehingga perempuan Indonesia punya tulang kuat dan kualitas hidup terjaga," jelas dr Suci.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA