Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

PM Suga: Pertemuan Jepang-Korsel-China Belum Pasti

Rabu 21 Oct 2020 15:12 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

 Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga berbicara selama konferensi pers di Jakarta, Indonesia, 21 Oktober 2020. Suga sedang melakukan kunjungan resmi selama dua hari ke Indonesia.

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga berbicara selama konferensi pers di Jakarta, Indonesia, 21 Oktober 2020. Suga sedang melakukan kunjungan resmi selama dua hari ke Indonesia.

Foto: EPA-EFE/DITA ALANGKARA
Suga dikabarkan tak akan hadir dalam pertemuan trilateral Jepang-Korsel-China.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mengatakan, hingga saat ini pertemuan trilateral Jepang-Korea Selatan (Korsel)-China belum dipastikan. Pekan lalu salah satu sumber mengatakan tampaknya Suga menolak hadir dalam pertemuan tahun ini.

"Saya tidak akan menyampaikan komunikasi Jepang dengan Korea Selatan itu seperti apa, namun demikian jadwal Summit tersebut belum dipastikan," kata Suga dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/10).

Pada pekan lalu kantor berita Kyodo melaporkan Suga tidak akan menghadiri pertemuan tahunan trilateral Jepang-Korsel-Cina. Suga tak hadir menyusul isu kompensasi kerja paska selama masa kolonialisme.

Tahun ini Korsel menjadi tuan rumah dari pertemuan yang diadakan setiap tahun sejak 2008.  Trilateral Summit biasanya membicarakan kerja sama ekonomi, isu regional dan Korea Utara.

Namun Kyodo mengutip sumber yang mengatakan pada September lalu Jepang memberitahu Korsel tampaknya 'tidak mungkin' Suga akan datang berkunjung kecuali isu kompensasi kerja paksa 'ditangani dengan tepat'.

Hubungan Jepang-Korsel renggang setelah pada  2018 lalu Mahkamah Agung Korsel memutuskan perusahaan Jepang Nippon Steel harus membayar kompensasi kerja paksa selama masa penjajahan. Jepang bersikeras segala bentuk kompensasi sudah diselesaikan pada perjanjian tahun 1965.

Aset-aset Nippon Steel di Korsel harus disita dan dalam proses likuidasi. Tokyo memperingatkan hal itu akan merusak hubungan kedua negara ke tahap tidak bisa diperbaiki lagi. "Bila aset perusahaan Jepang yang disita lalu dilikuidasi tapi justru mempersulit kedua negara, maka hal tersebut harus dihindarkan, hal ini sudah berkali-laki sudah saya sampaikan, di berbagai kesempatan," kata Suga.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA