Selasa 20 Oct 2020 00:14 WIB

Yogya Anggarkan Rp 400 Juta Bersihkan Malioboro

Pedesterian baru Malioboro lebih sulit dibersihkan karena berbahan teraso.

Pedagang kaki lima menggelar lapaknya kembali di Malioboro, Yogyakarta.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Pedagang kaki lima menggelar lapaknya kembali di Malioboro, Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengalokasikan anggaran  Rp 400 juta untuk membersihkan jalan khusus pejalan kaki atau pedestrian sisi timur di Jalan Malioboro. Pemkot hendak memastikan kondisinya kembali bersih sehingga nyaman dikunjungi wisatawan.

“Pekerjaan sudah dilakukan mulai pekan lalu. Untuk tahun ini, pembersihan dilakukan di Zona 1 Malioboro atau dari ujung utara Jalan Malioboro hingga depan Malioboro Mal,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Ekwanto di Yogyakarta, Senin (19/10).

Baca Juga

Menurut dia, pembersihan pedestrian di sisi timur Malioboro tersebut baru dilakukan untuk pertama kalinya sejak pedestrian tersebut direvitalisasi. “Saat ini kondisi pedestrian terutama di sekitar lokasi pedagang kuliner berjualan cukup kusam dan banyak noda, seperti noda minyak yang sulit dibersihkan. Makanya diperlukan upaya pembersihan secara khusus,” katanya.

Selama dibersihkan, pedagang kaki lima diminta untuk libur terlebih dulu. “Liburnya bergantian karena kami pun melakukan pembersihan secara bertahap,” katanya. Ia menargetkan pembersihan pedestrian Malioboro selesai dalam satu bulan.

Pekerjaan tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan khusus. Karena jika hanya dibersihkan menggunakan sikat dan air sabun saja, maka kotoran yang terlanjur meresap ke pori-pori pedestrian yang terbuat dari teraso sulit dihilangkan.

Setelah pembersihan pedestrian selesai dilakukan, Ekwanto berharap, Pedagang Kaki Lima (PKL) kuliner ikut menjaga kebersihan pedestrian dengan memasang semacam alas di sekitar kompor yang sering digunakan untuk memasak atau menggoreng. “Dengan demikian, tidak ada noda minyak di pedestrian,” katanya.

Ia juga melarang PKL membuang sisa minyak goreng atau limbah lainnya di pedestrian dan saluran air. Seluruh limbah tersebut harus dibawa pulang kembali oleh pedagang.

Sementara itu Ketua Lesehan Malioboro Sukidi mengatakan bahwa komunitas PKL kuliner di Malioboro sangat mendukung pemeliharaan pedestrian di Malioboro. Termasuk saat harus diliburkan secara bergantian selama empat hingga lima hari.

“Kami pun juga rutin membersihkan pedestrian melalui gerakan Selasa Wage saat seluruh PKL libur dan bergotong royong membersihkan Malioboro serta saat Jumat Bersih. Pedestrian dibersihkan dan disikat,” katanya.

Hanya saja, lanjut dia, material teraso yang digunakan sebagai pedestrian Malioboro lebih sulit dibersihkan dibanding tegel warna merah yang dulu digunakan sebagai material trotoar di Malioboro. “Sudah disikat dan diberi sabun tetapi noda minyak sulit dihilangkan. Noda yang juga sulit dihilangkan adalah teh,” katanya.

Ia menyebut PKL kuliner sudah berupaya maksimal untuk mengurangi potensi cipratan minyak dari panci penggorengan ke pedestrian dengan memasang pembatas atau alas. “Saat menggoreng, cipratan minyak ini terkadang jaraknya jauh,” katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement