Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Utang Meningkat, Menkeu: Tetap Bisa Terbitkan Global Bond

Senin 19 Oct 2020 15:27 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut Indonesia masih bisa mengakses pasar obligasi global di tengah meningkatnya utang dan melebarnya defisit di berbagai negara di dunia. Menurutnya, global bond terbitan Indonesia masih akan tetap positif dan menarik bagi investor.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut Indonesia masih bisa mengakses pasar obligasi global di tengah meningkatnya utang dan melebarnya defisit di berbagai negara di dunia. Menurutnya, global bond terbitan Indonesia masih akan tetap positif dan menarik bagi investor.

Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari
Indonesia pun masih bisa menerbitkan green sukuk dengan bunga yang sangat kompetitif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut Indonesia masih bisa mengakses pasar obligasi global di tengah meningkatnya utang dan melebarnya defisit di berbagai negara di dunia. Menurutnya, global bond terbitan Indonesia masih akan tetap positif dan menarik bagi investor.

Hal tersebut didasarkan pada rekam jejak pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia yang baik. "Ini selalu disampaikan baik ke stakeholder seluruh negeri maupun investor dunia, untuk itu meski dalam situasi sangat volatile tahun ini tetap bisa issue gobal bond," kata Sri dalam acara Capital Market Summit Expo (CMSE), Senin (19/10).

Sri mengakui penanganan dan pemulihan Covid-19 telah menyebabkan meningkatnya utang di berbagai negara, beberapa di antaranya bahkan mencapai di atas 100 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Demikian halnya di Indonesia, menurut Sri, dari sisi pembiayaan mengalami kenaikan yang signifikan. 

Di tengah kondisi ini, Sri menekankan, Indonesia harus terus berhati-hati dalam mengelola keuangan negara. Bank Sentral sendiri sejauh ini telah berupaya melakukan ekspansi likuiditas. Terbukti, beberapa indikator menunjukkan kondisi likuiditas cukup melimpah.

Menurut Sri, Indonesia pun masih bisa menerbitkan green sukuk dengan bunga yang sangat kompetitif. Untuk memaksimalkan global bond, Indonesia akan menyasar pangsa yang potensial dengan diversifikasi mata uang.

Selain global bond, Sri menambahkan, Indonesia juga akan memaksimalkan potensi investor ritel melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel. Menurutnya, memberi kesempatan bagi investor ritel untuk memiliki SBN dapat membantu memperdalam pasar keuangan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA