Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Cara Menghindari Terjadinya Gejala Pikun Dini

Jumat 16 Oct 2020 13:26 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Pelupa (ilustrasi). Demensia Alzheimer atau pikun sering kali tidak terdeteksi, meski gejalanya dapat dialami sejak usia muda.

Pelupa (ilustrasi). Demensia Alzheimer atau pikun sering kali tidak terdeteksi, meski gejalanya dapat dialami sejak usia muda.

Foto: adhdspecialists.com
Kepikunan dapat terjadi akibat gangguan secara alami dan non alami.

REPUBLIKA.CO.ID, TULUNGAGUNG -- Dokter spesialis saraf RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr Joko Rudiono SpS mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan demensia syndrome atau gejala kepikunan. Jika dibiarkan, gejalanya bisa semakin parah dan membuat penderita mengalami ketergantungan terhadap orang lain.

"Pikun atau demensia itu terjadi karena adanya ganguan fungsi pada saluran saraf otak yang tidak berfungsi dengan baik," katanya dalam sebuah dialog di Tulungagung, Kamis.

Karena dianggap sebagai gejala penyakit biasa, tidak banyak orang yang melakukan pemeriksaan medis ataupun pengobatan khusus untuk mengatasi hal ini. Kepikunan terdapat dua proses di antaranya gangguan secara alami dan non alami.

"Usia lanjut sangat rentan mengalami demensia secara alami dan penyembuhan sulit dilakukan pada lansia di usia 65 tahun ke atas, namun gejala itu masih bisa ditunda supaya tidak mengalami kondisi yang lebih parah dari sebelumnya," ucap Joko.

Menurut Joko, meskipun tidak ada gejala rasa sakit, namun pengidap demensia sering mengalami lupa berkali-kali secara berurutan. Jika menemui gejala seperti itu, ada baiknya dilakukan pemeriksaan ke dokter supaya diketahui penyebabnya untuk mendapatkan solusi atau terapi medis.

Proses kepikunan secara non alami biasanya dipengaruhi karena seseorang sebelumnya pernah menderita penyakit kronis, misalnya penderita strok, darah tinggi, kencing manis, dan stres. Selain dipicu penyakit bawaan, faktor lainnya, seperti pendarahan otak akibat kecelakaan dan trauma, ikut mempengaruhi terjadinya demensia.

Menurut Joko, pengobatan pada pasien demensia ini biasanya hanya ditekankan pada proses pencegahan supaya tidak semakin parah. Jika penyakit ini sudah menjadi parah, maka pasien dimensia akan mengalami kesulitan dan butuh bantuan dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.

Selain itu, juga bisa timbul gangguan perilaku dan emosi tinggi, seperti marah-marah gelisah sulit tidur berhalusinasi dan rasa curiga tinggi. Terhadap pasien demensia, dokter akan memberikan tindakan penanganan sesuai dengan kebutuhan.

Baca Juga

"Biasanya memberikan saran untuk memperbaiki pola makan sehat dan mengkonsumsi suplemen," ujar dia.

Joko kemudian memberikan saran cara sederhana untuk mengantisipasi agar tidak terjadi gejala pikun dini, yaitu;

1. Menerapkan pola hidup sehat dengan berolahraga rutin sesuai dengan kebutuhan.

2. Mengonsumsi makanan bergizi.

3. Melakukan kegiatan asah otak (sering membaca/menulis).

4. Kurangi stes dengan menghibur diri (bahagia).

"Pada umumnya, gejala pikun dini disebabkan karena tingkat stres yang berlebihan. Oleh karena itu lakukanlah gaya hidup sehat dan benar agar fungsi saluran saraf orak tidak cepat mengalami perubahan sebelum waktunya," tuturnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA