Kamis 15 Oct 2020 17:08 WIB

Pekanbaru Pritotaskan Penanangan Banjir di 15 Titik Lokasi

Pekanbaru memprioritaskan penanganan permasalahan banjir pada 15 titik lokasi

Seorang warga mendorong motornya yang mogok saat melewati banjir yang menggenangi Jalan M. Yatim Kota Pekanbaru, Riau, Kamis (14/2/2019).
Foto: Antara/FB Anggoro
Seorang warga mendorong motornya yang mogok saat melewati banjir yang menggenangi Jalan M. Yatim Kota Pekanbaru, Riau, Kamis (14/2/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Kota Pekanbaru memprioritaskan penanganan permasalahan banjir pada 15 titik lokasi di kota pada tahun 2020 guna menekan kerugian materi dialami warga seperti gangguan kesehatan, kerusakan rumah dan barang-barang akibat terendam banjir.

"Penyebab banjir di daerah ini karena kondisi alam Pekanbaru relatif datar, ketinggian permukaannya 0-80 MDPL (Meter Diatas Permukaan Laut) dan di pusat kota hanya 10-20 MDPL, biasanya lebih rawan kawasan permukiman di pinggir Sungai Siak pasti akan banjir," kata Kepala Dinas PUPR Pekanbaru, Indra Pomi Nasution di Pekanbaru, Rabu.

Baca Juga

Menurut dia, program penanganan banjir di pinggir Sungai Siak penanganannya memakai sistem pompa jadi dibendung terlebih dahulu kemudian dipompa, karena Pekanbaru memiliki dua Daerah Aliran Sungai (DAS), salah satunya DAS Sungai Siak yang terdiri dari 12 sub DAS.

Ia mengatakan, kedua DAS Sungai Kampar yang terdiri atas satu sub DAS, sehingga daerah Panam, seperti Jalan Cipta Karya dan jalan lainnya yang berdekatan dikawasan tersebut sering juga terjadi banjir, namun Sungai Kampar berada di bawah kendali Pemerintah Kampar.

"Karenanya kami sulit melakukan perbaikan di sana, tapi kita juga sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten tetangga melalui program Pekan Sekawan, yaitu kerjasama Siak dengan Pekanbaru, Kampar, dan Pelalawan supaya bisa bersama-sama menangani banjir di wilayah-wilayah perbatasan, dan tentu saja ada kendala lainnya,” kata Indra Pomi Nasution.

Indra Pomi Nasution mengungkapkan kendala lainnya seperti terdapat perumahan baru di daerah tangkapan air yang awalnya berguna meresap air ke tanah, namun karena sudah jadi perumahan air akan melimpah ke drainase saat hujan sehingga membutuhkan sumur resapan.

Jadi ke depan, katanya, digencarkan sosialisasi tentang pembuatan sumur resapan itu dengan kedalaman 5-10 meter di tiap rumah yang kawasan permukiman mereka merupakan daerah tangkapan air, dan jika setiap rumah bisa meresap 10 kubik air, diyakini banjir di kota ini tidak separah sekarang. Akan tetapi warga kota ini belum mau membangun sumur resapan sebagai alternatif mengurangi potensi titik banjir di daerah itu.

"Tercatat ada 39 titik banjir di Pekanbaru yang menjadi program pembangunannya, di antaranya 12 titik banjir sudah selesai pada 2019 dan 15 titik banjir lagi ditargetkan selesai ditangani 2020, yang saat ini masterplan drainase terkait ditargetkan selesai pada Desember 2020," katanya.

Terkait penanganannya, katanya lagi, dilakukan melalui kegiatan Operasi dan Pemeliharaan (OP) di bidang sumber daya air (SDA) yang dibagi atas OP alat berat berfungsi melakukan perbaikan saluran yang tersumbat, dan anak-anak sungai dikeruk pakai alat berat. Berikutnya OP manual jadi misalnya parit-parit kecil yang sudah tinggi itu digali lagi supaya drainase mempunyai daya dukung yang maksimal.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement