Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Neraca Dagang Indonesia Surplus Lima Bulan Berturut-turut

Kamis 15 Oct 2020 12:10 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Neraca perdagangan

Neraca perdagangan

Foto: Tim infografis Republika
neraca perdagangan Indonesia pada September 2020 surplus 2,44 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada bulan lalu dengan nilai 2,44 miliar dolar AS. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), surplus ini sudah dialami selama lima bulan berturut-turut atau sejak Mei hingga September.

Besaran ekspor pada September mencapai 14,01 miliar dolar AS, sementara kinerja impor mencatatkan nilai 11,57 miliar dolar AS.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, kinerja ekspor pada bulan lalu sudah mulai menunjukkan tren pemulihan dengan nilai yang hampir setara dengan tahun lalu. Tercatat, ekspor pada September 2019 mencapai 14,08 miliar dolar AS.

Artinya, Suhariyanto menuturkan, pertumbuhan ekspor turun tipis, yakni 0,5 persen. "Mudah-mudahan, di bulan berikutnya ekspor kita bisa terus naik," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (15/10).

Ekspor juga mengalami pertumbuhan apabila dibandingkan secara bulanan. Pada Agustus, kinerja ekspor sebesar 13,09 miliar dolar AS, atau tumbuh 6,97 persen pada September.

Kondisi berbeda terjadi pada impor. Meski mengalami kenaikan 7,71 persen dibandingkan Agustus 2020, kinerja impor pada bulan lalu masih menyusut 17,94 persen dibandingkan September 2019. "(Kinerja) impor kita masih (kontraksi) dalam," kata Suhariyanto.

Secara akumulasi, neraca dagang Indonesia pada periode Januari hingga September yang sebesar 13,51 miliar dolar AS juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Sebab, neraca perdagangan pada periode yang sama di tahun lalu mengalami defisit dalam yakni 2,24 miliar dolar AS.

"Mari kita berupaya bersama supaya ke depan performa dari ekspor makin meningkat sehingga neraca perdagangan terus bagus," ucap Suhariyanto.

Salah satu komoditas yang mempengaruhi secara signifikan terhadap kinerja ekspor dan impor Indonesia tahun ini adalah harga minyak mentah Indonesia (ICP). Pada bulan lalu, nilainya sebesar 37,43 dolar AS per barel, turun 10 persen dibandingkan Agustus yang mencapai 41,63 dolar AS per barel. Kontraksi lebih dalam terjadi jika dibandingkan September 2019, yaitu hingga 38,5 persen.

Komoditas lain yang berpengaruh adalah minyak kelapa sawit. BPS mencatat, terjadi kenaikan harga komoditas ini dari Agustus ke September sebesar 4,97 persen. Sedangkan, secara tahunan, pertumbuhannya mencapai 37,5 persen.

Harga karet juga meningkat secara bulanan 9,07 persen dan tahunan 23,9 persen. "Komoditas lain yang meningkat adalah cokelat, minyak kernel, batubara dan tembaga," ujar Suhariyanto.

Sebaliknya, beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga adalah emas. Perbandingannya pada September terhadap Agustus adalah 2,37 persen. Tapi, kalau dibandingkan tahun lalu, harga emas September ini masih naik 27,23 persen.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA