Saturday, 28 Sya'ban 1442 / 10 April 2021

Saturday, 28 Sya'ban 1442 / 10 April 2021

Pilkada Kala Pandemi, Ini Contoh Kampanye Aman tapi Efektif

Rabu 14 Oct 2020 16:45 WIB

Rep: Mimi Kartika / Red: Ratna Puspita

Pasangan calon kepala daerah perlu memikirkan metode kampanye yang aman tetapi efektif dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) kala pandemi Covid-19. [Ilustrasi kampanye Pilkada 2020]

Pasangan calon kepala daerah perlu memikirkan metode kampanye yang aman tetapi efektif dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) kala pandemi Covid-19. [Ilustrasi kampanye Pilkada 2020]

Foto: Republika/Mardiah
Kampanye bisa dilakukan lewat poster, media penyiaran, hingga SMS atau pesan singkat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Senior Manajer Program International IDEA Adhy Aman meminta pasangan calon kepala daerah memikirkan metode kampanye yang aman tetapi efektif dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) kala pandemi Covid-19. Ia menyebutkan, ada beberapa cara kampanye kandidat pada pemilihan di luar negeri yang mungkin bisa dipertimbangkan.

"Kalau kita lihat pengalaman mancanegara ada cara-cara lain yang mungkin bisa dipertimbangkan," ujar Adhy dalam konferensi nasional virtual, Rabu (14/10).

Misalnya, metode kampanye pemilihan lokal di Mongolia yang sedang berlangsung saat ini. Para kandidat menggunakan poster-poster yang dipasang di sejumlah sudut kota dengan cara menarik dan mudah dilihat publik.

Baca Juga

Metode kampanye lain yang bisa difasilitasi penyelenggara pilkada di Indonesia, yakni memaksimalkan media televisi dan radio. Cara ini yang dipakai dalam kampanye pemilu di Singapura saat debat partai politik pada Juli lalu.

Selain itu, kampanye juga bisa melalui SMS atau pesan singkat. Adhy mengatakan, penggunaan SMS sebagai metode kampanye sangat populer di India. Pesan kampanye dapat tersampaikan tanpa harus mengumpulkan massa.

Adhy menambahkan, beberapa negara tetap menyelenggarakan pemilihan sesuai jadwalnya, sebagian negara melakukan penundaan dan menjadwalkan ulang, serta ada juga yang menunda tanpa menetapkan tanggal baru. "Tapi kalau dari jumlah sebetulnya banyak yang ditunda," kata dia.

Data per Agustus, kata Adhy, terdapat 71 negara atau wilayah yang menunda pemilihan. Sedangkan, 64 negara dan wilayah lainnya hingga kini sudah menyelenggarakan pemilihan di masa pandemi Covid-19.  

 
 

BERITA LAINNYA