Selasa 13 Oct 2020 17:47 WIB

Sektor Pertanian Tulang Punggung Indonesia di Masa Pandemi

Perlu keberpihakan dan bantuan agar sektor pertanian tetap terjaga pada masa pandemi.

Rep: M Nursyamsi/ Red: Friska Yolandha
Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) meyakini sektor pertanian akan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia di masa pandemi. Ketua Umum KTNA Winarno Tohir menilai perlunya keberpihakan dan bantuan agar sektor pertanian tetap terjaga selama masa pandemi.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) meyakini sektor pertanian akan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia di masa pandemi. Ketua Umum KTNA Winarno Tohir menilai perlunya keberpihakan dan bantuan agar sektor pertanian tetap terjaga selama masa pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) meyakini sektor pertanian akan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia di masa pandemi. Ketua Umum KTNA Winarno Tohir menilai perlunya keberpihakan dan bantuan agar sektor pertanian tetap terjaga selama masa pandemi. 

"Presiden sudah berpesan agar para petani dan nelayan membentuk korporasi petani berbasis koperasi," ujar Winarno dalam webinar MarkPlus Industry Roundtable: Agro Industry Perspective pada Selasa (13/10).

Winarno menilai pembentukan korporasi akan mendorong produktivitas pertanian. Winarno menyebut sejumlah persoalan yang masih terjadi, seperti kalah bersaingnya petani dalam negeri dibandingkan negara-negara lain. 

"Petani kita kalah bersaing karena biaya produksinya masih tinggi terutama buruh lepas dan sewa lahan," ucap Winarno. 

Winarno mengatakan biaya produksi padi Indonesia tercatat menjadi yang tertinggi dengan Rp 4,080 per kg atau jauh lebih tinggi ketimbang Vietnam yang sebesar Rp 1,680 per kg atau Thailand yang sebesar Rp 2,291 per kg. 

Winarno menyebut sudah waktunya beralih ke mekanisasi pertanian yang dimiliki secara bersama dalam bentuk korporasi petani guna mengatasi tenaga kerja dan sewa lahan yang terlalu mahal.

Selain itu, lanjut Winarno, Indonesia termasuk lamban menggunakan alat mesin pertanian (alsintan) dibanding negara tetangga. Ia menceritakan pengalaman dirinya yang pernah magang di Jepang selama sembilan bulan pada 1988. Saat itu, Winarno bersama satu orang temannya mampu mengolah lahan seluas lima hektare hanya dan dapat menghasilkan 5,2 ton beras per hektare.

Kata Winarno, petani Jepang, baik individu atau kelompok dibantu pemerintah untuk bisa memiliki alsintan seperti traktor roda empat, mesin tanam, sampai mesin penggilingan beras.

"Para petani Jepang punya kebiasaan mengamati mulai dari on farm, pascapanen sampai beras sehingga rasa nasinya enak dan produksi setiap tahun meningkat," ucap Winarno. 

Winarno menilai para petani memang tidak merasakan dampak pandemi dari sisi produksi, namun dampak yang terjadi ada pada penurunan daya beli masyarakat, terutama untuk hortikultura sayur dan daging ayam. Sementara permintaan rempah-rempah justru mengalami peningkatan permintaan dan harga selama pandemi. 

"Konsumen ada penurunan daya beli akibat resesi dan pandemi bersamaan. Untuk kelangsungan petani dan nelayan pemeoentah harus membantu dalam permodalan, teknologi, dan pemasaran lokal serta ekspor," ucap dia.

Winarno juga berharap pemerintah daerah mewajibkan rumah makan dan hotel membeli produk petani lokal. Selain itu, menurut Winarno, bantuan sosial untuk petani sebaiknya pemerintah membeli hasil produksi petani dan dibagikan kepada masyarakat.

Winarno mendorong pemerintah membantu petani dengan memberikan SKIM Kredit Alsintan. Para petani bisa memilih sesuai kebutuhan dan para petani merasa terfasilitasi. 

"Untuk fasilitasi petani dan nelayan dalam berusahatani, pemerintah bisa mendorong BUMN, BUMD, atau swasta untik menyiapkan segala fasilitas yang dibutuhkan," lanjut Winarno. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement