Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

BMKG: Tanpa La Nina Pun, Curah Hujan pun Sudah Tinggi

Selasa 13 Oct 2020 16:51 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Agus Yulianto

Sejumlah warga melintasi genangan air yang membanjiri jalan akibat curah hujan tinggi.

Sejumlah warga melintasi genangan air yang membanjiri jalan akibat curah hujan tinggi.

Foto: ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
Desember 2020, anomali cuaca yang ditimbulkan La Nina menguat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah daerah diminta mulai melakukan antisipasi terhadap bencana hidrometerologi sepanjang akhir 2020 hingga awal 2021 nanti. Indonesia diprediksi akan terdampak La Nina, sebuah anomali cuaca yang menyebabkan curah hujan di kawasan Asia Tenggara lebih tinggi dari normal, dengan puncaknya Desember hingga Januari mendatang. 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan, La Nina menambah potensi terjadinya bencana hidrometerologi di Indonesia. Bagaimana tidak, tanpa La Nina saja curah hujan di Indonesia, terutama di pesisir barat Pulau Sumatra, sudah cukup tinggi. "Apalagi ditambah La Nina yang bisa meningkatkan curah hujan hingga 40 persen lebih tinggi," katanya, Selasa (13/10). 

Periode puncak curah hujan juga diprediksi akan semakin lama. Tanpa La Nina, maka Indonesia akan mengalami puncak musim hujan pada Januari-Februari 2021. Namun, La Nina sendiri mencapai puncaknya Desember 2020. Artinya, pucak curah hujan di Indonesia melebar menjadi Desember-Februari. 

La Nina juga memiliki dampak yang berbeda-beda sesuai lokasi dan periodenya. Pada Oktober-November 2020, curah hujan tinggi akibat La Nina diprediksi paling dirasakan oleh masyarakat di Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi bagian selatan dan tengah, Kalimantan bagian tengah, seluruh Kepulauan Maluku, hingga Papua bagian barat. 

Dari sebaran tersebut, terlihat bahwa Sumatra tidak masuk sebagai wilayah terdampak La Nina. Namun yang perlu dicatat, curah hujan di pesisir barat Sumatra masuk dalam kategori tinggi sepanjang Oktober-November. 

"Bisa lebih ari 400 mm per bulan yakni di bagian barat Sumatra mulai dari ujung Aceh sampai ujung selatan Lampung," ujar Dwikorita dalam keterangan pers usai rapat terbatas dengan Presiden Jokowi, Selasa (13/10). 

Selain Sumatra, Sulawesi juga terpantau mulai memasuki musim penghujan pada Oktober ini. Begitu juga Jawa Barat yang mulai mencatatkan peningkatan curah hujan. Dari prediksi yang ada, maka bisa disimpulkan bahwa sepanjang Oktober-November nyaris seluruh wilayah di Indonesia punya risiko yang merata terhadap curah hujan tinggi. 

Berlanjut ke Desember 2020, anomali cuaca yang ditimbulkan La Nina menguat. Efeknya paling banyak dirasakan oleh masyarakat di Indonesia bagian tengah dan utara, seperti Sulawesi, Kepulauan Maluku, Papua bagian tengah, Sulawesi bagian utara, Maluku bagian utara, hingga Papua Barat bagian utara. 

"Namun tanpa La Nina pun, wilayah Jawa untuk Desember sudah curah hujan tinggi. Baik Sumatra bagian barat terutama sejak Sumbar sampai Lampung, Aceh dan Sumbar itu memang diprediksi tinggi," ujar Dwikorita. 

Dengan prediksi tersebut, maka pada Desember 2020 wilayah yang perlu mewaspadai adanya peningkatan curah hujan merata di sepanjang pesisir barat Sumatra, memanjang ke Jawa, Nusa Tenggara, bagian tengah Papua, Papua bagian utara, sampai Sulawesi. 

"Secara umum kalau kita lihat petanya yang intensitas tinggi hampir merata mulai November sampai April, terutama di Jawa, pantai barat Sumatra, Sulawesi, dan Papua bagian tengah dan utara," kata Dwikorita. 

Indonesia tetap perlu mewaspadai risiko bencana hidrometeorologi, baik dengan atau tanpa La Nina. Dwikorita menjelaskan, Indonesia memang memiliki curah hujan yang tinggi. La Nina berfungsi melipatgandakan tingkat curah hujan dan risiko bencana yang mengikutinya. 

Ia pun meminta masyarakat mengunduh aplikasi Info BMKG untuk bisa mengetahui perkembangan terkini mengenai prediksi cuaca. Bahkan, prakiraan cuaca untuk tujuh hari ke depan sudah bisa diketahui. Diharapkan, masyarakat yang melek terhadap prakiraan cuaca bisa lebih siap dalam menghadapi risiko bencana di depan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA