Selasa 13 Oct 2020 13:06 WIB

Amartha Catat Peningkatan Penerima Pinjaman 100,98 Persen

Jumlah pembiayaan yang disalurkan Amartha per September 2020 sebesar Rp 2,66 triliun.

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya
Founder dan CEO PT. Amartha Mikro Fintek, Andi Taufan Garuda Putra.
Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Founder dan CEO PT. Amartha Mikro Fintek, Andi Taufan Garuda Putra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mencatatkan peningkatan penerima pinjaman (borrower) sebesar 100,98 persen sampai September 2020. Adanya peningkatan tersebut, perusahaan mengakumulasikan pembiayaan senilai Rp 2,66 triliun.

CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan perusahaan menjembatani segmen masyarakat yang berada piramida terbawah untuk dapat lebih sejahtera dengan akses permodalan. Hal itu didukung dengan peningkatan pemberi pinjaman (lender) sebesar 34 persen sampai September 2020.

Baca Juga

“Melalui produk keuangan perseroan dan 3.000 tim yang berdedikasi di lapangan, perusahaan dapat menyalurkan pendanaan modal usaha dari ratusan ribu lender kepada 542.350 mitra Amartha. Seluruh penerima pembiayaan itu merupakan perempuan pengusaha mikro desa yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10).

Menurutnya perusahaan berupaya mendorong terwujudnya ekosistem ekonomi pedesaan terintegrasi, sehingga membuka kesempatan lebih baik bagi warga prasejahtera agar dapat lebih sejahtera. Amartha berkomitmen untuk mengembangkan produk layanan keuangan masa depan yang memungkinkan masyarakat pedesaan untuk melakukan transaksi dengan biaya lebih rendah.

“Apalagi guna meningkatkan pendapatan melalui usaha mikro mereka kami meyakini dapat mewujudkan misi tersebut melalui akses pembiayaan yang disalurkan lewat perusahaan,” ucapnya.

Bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan 2020 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Amartha telah merilis Laporan Akuntabilitas Sosial (Social Accountability Report) Amartha 2019, dengan temuan bahwa tingkat literasi keuangan mitra Amartha Meningkat hingga 23,15 persen.  Selain itu, data menunjukan bahwa hampir 70 persen pendana Amartha adalah milenial dari seluruh provinsi di Indonesia.

Pendana milenial biasanya tertarik pada pendanaan berdampak sosial, yang menghasilkan keuntungan serta memberikan nilai dampak nyata kepada masyarakat. Terkait hal tersebut, Taufan mengatakan, model bisnis Amartha memang dirancang untuk menjadi pendorong utama peningkatan inklusi keuangan di Indonesia melalui tiga pilar pemberdayaan yakni penyediaan produk keuangan, peningkatan akses, dan pengurangan biaya untuk memperoleh akses layanan keuangan.

“Seiring dengan pertumbuhan bisnis dan perluasan geografis Amartha, Amartha membantu Indonesia mencapai visinya sebagai bangsa yang inklusif secara finansial,” ucapnya.

Berdasarkan data Amartha, perusahaan telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 2,66 triliun sampai September 2020. Nilai itu memiliki tingkat keberhasilan pembiayaan 90 hari (TKB 90) mencapai 91,07 persen. Artinya tingkat wanprestasi 90 hari (TWP 90) dari perseroan mencapai 8,93 persen.

Namun demikian, sejak berdiri pada 2010 sebagai lembaga keuangan mikro dan bertransformasi menjadi perusahaan fintech p2p lending pada 2016 perseroan turut memaparkan capaian dampak sosial. Diantaranya 59,5 persen pendapatan mitra dapat melonjak dan 80 persen mitra telah memiliki akses air bersih. Selain dampak sosial, para lender yang ditawarkan dengan sistem tanggung renteng tercatat mendapat keuntungan hingga 27 persen per tahun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement