Selasa 13 Oct 2020 12:52 WIB

PASI DKI Kenang Sosok Eduardus Nabunome

Eduardus meninggal pada Senin malam 12 Oktober pukul 21.20 WIB

Eduardus Nabunome (kanan)
Foto: antara
Eduardus Nabunome (kanan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meninggalnya mantan atlet atletik nasional Eduardus Nabunome menjadi kehilangan besar bagi jajaran Pengurus Atletik Seluruh Indonesia (PASI) DKI Jakarta, tempat mendiang mendedikasikan sisa perjalanan kariernya sebagai pelatih Pelatda Atletik.

Sebagaimana yang diutarakan Ketua Umum PASI DKI Jakarta Mustara Musa, Edo, sapaan akrab Eduardus, adalah pribadi yang baik serta memiliki dedikasi yang tinggi dalam usahanya menggenjot prestasi atlet atletik di Jakarta.

"Sebagai pelatih memang beliau belum lama, namun memiliki dedikasi yang baik. Ia bahkan berhasil mendidik salah satu anaknya menjadi atlet jarak jauh putri potensial, yang tahun lalu dipanggil pelatnas PB PASI usia remaja," kata Mustara di Jakarta, Selasa (13/10).

Eduardus meninggal pada Senin malam 12 Oktober pukul 21.20 WIB di RS Medistra Jakarta karena penyakit jantung yang dideritanya.

Selama aktif menjadi atlet nasional, Eduardus menorehkan prestasi gemilang di cabang olahraga atletik. Ia mencatatkan rekor nasional marathon hingga hari ini dengan catatan waktu dua jam 19 menit, serta sejumlah rekornas lainnya.

Eduardus Nabunome mencatat hattrick medali emas di nomor lari 10.000 meter putra SEA Games sejak 1987, 1989 dan 1991. Selain itu, di nomor lari 5.000 meter putra juga meraih emas pada SEA Games 1987 dan 1989, dan juga lari marathon di SEA Games 1997.

Pria asal NTT ini yang mematahkan dominasi pelari asal Malaysia, Subramaniam di nomor lari 10.000 meter. Edo juga yang menghentikan dominasi atlet andalan Filipina Hector Bagio di nomor lari marathon SEA Games. Sebelum meninggal, Eduardus menjadi pelatih Pelatda lapis 2 di PASI DKI Jakarta sejak September 2020.

Menurut Mustara, catatan prestasi yang pernah dicapai Edo merupakan inspirasi semangat yang semestinya ditiru atlet-atlet remaja.

"Saya berharap dengan prestasi Edo itu bisa menginspirasi kalangan atletik untuk meniru prestasi yang lebih hebat. Atlet bisa berlatih lebih giat agar muncul kebangkitan atlet jarak jauh dan marathon baru lainnya. Selain itu kompetisi juga harus tertata dan berjenjang dengan lebih baik," pungkas Mustara.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement