Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

dr Pandu: Lockdown atau Pembatasan tak Perburuk Keadaan

Selasa 13 Oct 2020 05:30 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Ratna Puspita

Ahli Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat UI dr Pandu Riono mengatakan, lockdown atau penguncian dan pembatasan saat wabah merebak sangat efektif untuk menekan penambahan kasus sehingga tak memperburuk keadaan.

Ahli Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat UI dr Pandu Riono mengatakan, lockdown atau penguncian dan pembatasan saat wabah merebak sangat efektif untuk menekan penambahan kasus sehingga tak memperburuk keadaan.

Foto: Tim Republika
Lockdown adalah cara sementara ketika kasus penularan masih tinggi. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat UI dr Pandu Riono menampik pendapat bahwa lockdown atau pembatasan tak bermanfaat dalam penanganan Covid-19. Menurut dr Pandu, lockdown atau penguncian dan pembatasan saat wabah merebak sangat efektif untuk menekan penambahan kasus sehingga tak memperburuk keadaan.

"Staf WHO itu memikirkan apa yang kita pikirkan juga, sebenarnya. Supaya lockdown jangan dipikirkan sebagai satu-satunya cara untuk menekan penularan. Enggak bukan itu, itu (lockdown) cara sementara," ujar dia ketika dikonfirmasi Republika.co.id, Senin (12/10)

Ia mengatakan, penguncian atau pembatasan adalah cara sementara ketika kasus penularan masih tinggi. Dalam pelaksanaanya, lockdown ataupun pembatasan seperti PSBB di Indonesia memang tidak seharusnya terlalu lama dilakukan.

Baca Juga

"Memang seharusnya seperti itu," tambah dia.

Namun, ia menilai memang masih banyak negara saat ini yang tidak memahami konsep dari lockdown atau pembatasan-pembatasan lainnya. Ia menilai, penyebaran wabah akan efektif jika tujuan menekan kasus penularan bisa ditekan sedemikian rupa, khususnya melalui lockdown atau pembatasan lainnya.

Sebagai bagian dari aturan International Health Regulation, lockdown katanya, juga memang harus dilakukan secara efektif. Sebelum akhirnya ada pelonggaran-pelonggaran yang dibutuhkan untuk kepentingan sektor lainnya.

"Intinya WHO itu sama saja, tidak ada pernyataan yang berubah. Pernyataan dari dokter WHO itu, Dr David Nabarro, tidak mengambil statement resmi WHO, dan pernyataanya salah ditangkap oleh penulis yang menyatakan lockdown tidak bermanfaat," kata dia.

dr Pandu menegaskan, lockdown dan PSBB adalah salah satu keadaan darurat yang harus dilakukan pemerintah suatu negara. Khususnya, jika penularan wabah sulit dikendalikan.

Sebelumnya, Dr David Nabarro dari WHO menyerukan para pemimpin dunia berhenti "menggunakan lockdown sebagai metode pengendalian utama negara dari virus corona". Dia mengeklaim satu-satunya yang dicapai dari penguncian sebagai pengendalian utama adalah kemiskinan, tanpa menyebutkan potensi nyawa yang diselamatkan.

“Satu-satunya saat kami yakin bahwa penguncian dapat dibenarkan adalah untuk memberi Anda waktu untuk mengatur ulang, menyusun kembali, menyeimbangkan kembali sumber daya Anda, melindungi petugas kesehatan Anda yang kelelahan, tetapi pada umumnya, kami lebih suka tidak melakukannya," katanya seperti dikutip news.com.au, Senin (12/10). 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA