Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Rasulullah tak Pernah Perlakukan Tawanan dengan Buruk

Senin 12 Oct 2020 07:51 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Esthi Maharani

Ilustrasi Rasulullah

Ilustrasi Rasulullah

Foto: Pixabay
Islam merupakan agama yang menghindari praktek kekerasan terhadap tawanan perang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sepanjang hidup Rasulullah SAW saat menjadi Nabi dan memimpin Islam, tak terkira puluhan perang dihadapi. Tak jarang, usai memenangkan peperangan Nabi dan sahabat membawa pulang tawanan perang.

Meski mereka merupakan lawan dan musuh bagi umat Muslim, namun tawanan tersebut tidak pernah diperlakukan dengan buruk. Islam merupakan agama yang menghindari praktek kekerasan terhadap tawanan perang. Islam tidak pernah menyetujui praktek-praktek yang melanggar hukum.

Setelah perang Badar, contohnya, setidaknya ada 70 musyrik Quraisy yang berhasil ditawan umat Islam. Mereka diperlakukan secara manusiawi, tidak disiksa dengan semena-mena, dan tidak dicederai kehormatannya.

Dalam buku Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Ibnu Katsir, digambarkan Rasulullah SAW memperlakukan tawanannya dengan empat cara. Pertama, mengeksekusi mati tetapi hal ini sangat jarang sekali dilakukan.

Perlakuan kedua yakni membebaskan dengan tebusan. Rasulullah SAW sangat memperhatikan kondisi ekonomi setiap tawanannya. Jumlah tebusannya pun bervariasi, tergantung harta yang dimiliki.

Ketiga, Rasulullah SAW setuju membebaskan tawanan perang dengan syarat mengajarkan baca-tulis. Rasul tahu dan menyadari jika tidak semua tawanannya memiliki harta benda yang melimpah. Karena itu, Rasulullah memiliki cara tersendiri untuk mengatasi persoalan itu. Bagi tawanan yang bisa membaca dan menulis, mereka akan dibebaskan jika mau mengajari umat Islam atau anak-anak Anshar tentang baca-tulis.

Ibnu Abbas meriwayatkan, "Beberapa tawanan perang Badar ada yang memiliki uang untuk tebusan, maka Rasulullah menjadikan tebusannya dengan mengajar anak-anak Anshar".

Terakhir, tak jarang Rasulullah membebaskan tanpa syarat apapun. Keputusan itu dilakukan bukan atas kehendak sendiri, tetapi setelah didiskusikan dengan para sahabat. Rasulullah adalah orang yang mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan suatu hal.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA