Monday, 8 Rajab 1444 / 30 January 2023

Yahudi, Kristen, dan Islam Siapa Pewaris Agama Ibrahim?  

Jumat 09 Oct 2020 18:11 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Tiga agama samawi saling mengklaim pewaris agama Ibrahim AS Islam-Yahudi/ilustrasi

Tiga agama samawi saling mengklaim pewaris agama Ibrahim AS Islam-Yahudi/ilustrasi

Foto: news.yourolivebranch.org
Tiga agama samawi saling mengklaim pewaris agama Ibrahim AS

REPUBLIKA.CO.ID, Tidak dapat dimungkiri, bahwa baik Yahudi, Kristen, maupun Islam, mengklaim sebagai pewaris khas (eksklusif) ajaran Ibrahim. Kaum Muslim yakin, bahwa millah Ibrahim adalah agama Tauhid, dan hanya Islamlah yang konsisten melanjutkan ajaran Tauhid Nabi Ibrahim. Alquran menjelaskan: 

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Baca Juga

“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67). 

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang hanif.” (QS 4:125).  

Dalam konsep Islam, Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang menegaskan kembali ajaran tauhid yang dibawa para nabi sebelumnya. Karena itulah, dalam perspektif Islam, millah Ibrahim atau the religion of Ibrahim adalah agama tauhid yang ditegaskan kembali oleh nabi terakhir, Muhammad SAW. Dalam perspektif Islam, menggunakan istilah Abrahamic faiths (agama-agama Ibrahim), dalam bentuk jamak yang memasukkan agama Yahudi dan Kristen sebagai millah Ibrahim adalah kekeliruan.  

Dalam konferensi 1979 di New York tersebut, melalui makalahnya yang berjudul Islam and Christianity in the Perspective of Judaism, Michel Wyschogrod, profesor filsafat di Baruch College, City University, New York, memaparkan persoalan mendasar dalam pemahaman keagamaan antara Yahudi, Kristen, dan Islam.

Yahudi dan Kristen bersekutu dalam Bibel (Perjanjian Lama). Tetapi berbeda secara mendasar dalam konsep trinitas dan penafsirannya. Dengan Islam, Yahudi tidak bermasalah dalam soal pengakuan Tuhan yang satu (monotheism). Tetapi, Muslim memandang bahwa telah terjadi penyimpangan yang serius pada Kitab Yahudi (juga Kristen).  

Gambaran Prof Michel Wyschogrod tentang Islam tersebut tidak sepenuhnya benar. Monoteisme memang mengakui Tuhan yang satu. Tetapi, monoteisme tidak sama dengan tauhid. Dalam konsep Islam, tauhid adalah pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan ada unsur ikhlas, rela diatur Allah SWT. Maka, syahadat Islam adalah 'tidak ada tuhan selain Allah', bukan 'tidak ada tuhan selain Tuhan', juga bukan 'tidak ada tuhan selain Yahweh'. 

Karena itu, jika orang menyembah Tuhan yang satu, tetapi yang ‘yang satu’ itu adalah Fir’aun, maka dia tidak bisa disebut 'bertauhid'. Iblis pun tidak bertauhid dan kafir, karena menolak tunduk kepada Allah, meskipun dia mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan.  

Dalam perspektif Islam inilah, memasukkan agama Yahudi (Judaism), sebagai millah Ibrahim juga patut dipertanyakan. Kaum Yahudi memang menyembah Tuhan yang satu. Tetapi, hingga kini, mereka masih berselisih paham tentang siapa Tuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai Yahweh. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Hingga kini, belum jelas, siapa nama Tuhan Yahudi.  

Karena menolak beriman kepada kenabian Muhammad SAW, maka kaum Yahudi kehilangan jejak kenabian dan tauhid. Mereka kehilangan data-data valid dalam kitab mereka. Th C Vriezen, dalam buku Agama Israel Kuno (Jakarta: BPK, 2001), menulis, "Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur)… Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.” 

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA