Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Dokter Sebut Trump Sudah Selesaikan Pengobatan Covid-19

Jumat 09 Oct 2020 11:21 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih

Presiden Donald Trump

Presiden Donald Trump

Foto: AP/Evan Vucci
Dokter Sean Conley mengatakan Trump telah menyelesaikan proses pengobatan Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Dokter Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Sean Conley, mengatakan Trump telah menyelesaikan proses pengobatan Covid-19. Sejak kembali ke Gedung Putih, kondisinya tetap stabil. Dengan demikian, mulai Sabtu (10/10) Trump bisa melanjutkan kembali aktivitas publiknya.

Dalam sebuah memo yang dirilis Gedung Putih pada Kamis (8/10), Conley mengatakan Trump telah memberi respons yang sangat baik terhadap pengobatan tanpa bukti efek samping. "Sejak kembali ke rumah, pemeriksaan fisiknya tetap stabil dan tidak ada indikasi yang menunjukkan perkembangan penyakit," tulis Conley.

Dia mengatakan Sabtu akan menjadi hari ke-10 sejak Trump didiagnosis Covid-19. "Berdasarkan lintasan diagnosis lanjutan yang telah dilakukan tim, saya sepenuhnya mengantisipasi Presiden akan kembali dengan aman ke keterlibatan publik pada saat itu," kata Conley.

Dia tak mengungkapkan apakah Trump sudah benar-benar negatif Covid-19. Gedung Putih pun menolak mengatakan kapan terakhir kali Trump melakukan tes negatif untuk virus corona. Dalam sebuah video yang diunggah ke akun Twitter pribadinya pada Rabu (7/10) lalu, Trump mengatakan bahwa terinfeksi Covid-19 adalah sebuah berkah Tuhan.

"Saya pikir ini adalah berkah dari Tuhan yang saya tangkap. Ini adalah berkah terselubung," kata Trump.

Trump mengungkapkan selama pengobatan dia mengonsumsi obat eksperimental dari Regeneron Pharmaceuticals Inc. Dia mengklaim obat tersebut cukup efektif.

Trump mengatakan akan menyediakan obat itu secara gratis. Namun dia tak menjelaskan bagaimana hal tersebut dilakukan dan siapa yang akan membayar biaya penyediaan obatnya.

Terinfeksi Covid-19 adalah sebuah "kerugian" bagi Trump sebab dia harus menghentikan sementara aktivitas kampanyenya. Padahal hal itu cukup krusial mengingat persentase elektabilitasnya di sejumlah survei masih berada di bawah calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden.

Tak lama setelah Trump diumumkan mengidap Covid-19, kritik publik AS terhadap penanganan pandemi merebak dan menggelora kembali. Pemerintahan Trump memang dianggap lamban dalam merespons dan cenderung meremehkan wabah virus corona.

Hal itu mengakibatkan AS menjadi negara paling terdampak pandemi. Sejauh ini Negeri Paman Sam telah mencatatkan lebih dari 7,6 juta kasus Covid-19 dengan korban meninggal melampaui 213 ribu jiwa.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA