Kamis 08 Oct 2020 21:10 WIB

Hama Ulat Serang Puluhan Hektare Sawah di Penajam Kaltim

Hama ulat sebelumnya juga menyerang ratusan hektare sawah pada Agustus lalu.

Hama ulat penggerek batang kembali menyerang puluhan hektare lahan persawahan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur  (Foto: ilustrasi sawah)
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Hama ulat penggerek batang kembali menyerang puluhan hektare lahan persawahan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur (Foto: ilustrasi sawah)

REPUBLIKA.CO.ID, PENAJAM -- Hama ulat penggerek batang kembali menyerang puluhan hektare lahan persawahan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Kasi Perbenihan Perlindungan Tanaman Pangan Holtikultura Dinas Pertanian setempat, Wahidin Alaudin, di Penajam, Kamis (8/10), mengatakan, sebelumnya padi petani sempat diserang ulat penggerek batang pada Agustus 2020.

"Ratusan hektar lahan pertanian tanaman padi di Kecamatan Babulu pada saat itu terancam gagal panen," katanya.

Baca Juga

Untuk saat ini lanjut Wahidin Alaudin, puluhan hektare lahan sawah di wilayah Penajam Paser Utara berstatus waspada lantaran diserang ulat penggerek batang. Terdata oleh Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara, sekitar lima hektare lahan persawahan terancam rusak. Serangan ulat penggerek batang tersebut menurut Wahidin Alaudin, terjadi di lahan pertanian tanaman padi di Desa Sesulu Kecamatan Waru.

"Akibatnya pertumbuhan tanaman padi yang baru berusia 10 hingga 30 hari terganggu," tambahnya.

Dinas Pertanian kata Wahidin Alaudin, telah melakukan penyemprotan pestisida pada lahan persawahan yang serang ulat penggerek batang untuk mencegah kondisinya semakin parah. Namun karena kondisinya sudah cukup parah ia menimpali lagi, sehingga beberapa areal lahan sawah gagal terselamatkan.

"Pemicunya kami sebut segitga penyakit yakni, bisa karena kondisi tanaman, alam atau padinya itu sendiri," ucap Wahidin Alaudin.

Dalam pengendalian serangan hama, dilakukan pengendalian terpadu baik secara kimia maupun alami.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement