Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Upaya Kerdilkan Peran Umat Islam di Indonesia-Melayu 

Selasa 06 Oct 2020 20:29 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Terdapat upaya untuk mengerdilkan peran umat Islam di Indonesia dan serumpun Melayu. Ilustrasi umat Islam.

Terdapat upaya untuk mengerdilkan peran umat Islam di Indonesia dan serumpun Melayu. Ilustrasi umat Islam.

Foto: Republika/Yasin Habibi
Terdapat upaya untuk mengerdilkan peran umat Islam di Indonesia dan serumpun Melayu.

REPUBLIKA.CO.ID, Seperti menyadari benar potensi Islam untuk kebangkitan sebuah peradaban, maka selama ratusan tahun telah dilakukan berbagai usaha untuk memperkecil peran Islam, tak terkecuali di bumi Nusantara. 

Seperti yang dilakukan para orientalis Belanda, seperti Snouck Hurgronje. Prof Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini: 

”Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Ke pulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini. Namun begitu, baik dalam tulisan Hurgronje maupun dalam tulisan Van Leur, tidak terdapat hujjah-hujjah ilmiah yang mempertahankan pandangan demikian mengenai Islam dan peranan sejarahnya.” (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, hlm 36).

Baca Juga

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan  Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, 1989), PSJ Van Koning sveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. 

Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang Muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Makkah. Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. 

Snouck dianggap kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’, bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” 

Pada 1938, M Natsir pernah menulis sebuah artikel berjudul: ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”. Artikel ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Okto ber 1938, yang juga menyinggung pentingnya peran pendidikan Barat dalam menjauhkan kaum Muslim dari agamanya. 

Natsir mengutip ungkapan Prof. Snouck Hurgronje, dalam bukunya Nederland ende Islam, ”Opvoeding en on der wijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

*Naskah ini penggalan dari artikel Adian Husaini yang tayang di Harian Republika 2015 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA