Ahad 04 Oct 2020 11:14 WIB

BPBD Jabar Perbaiki Dua Alat Pendeteksi Tsunami yang Rusak

BPBD Jabar memperbaiki dua alat pendeteksi tsunami yang mengalami kerusakan.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Bayu Hermawan
Gempa bumi (ilustrasi)
Foto: www.keyt.com
Gempa bumi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Penanggulangan Bencana Derah (BPBD) Jawa Barat telah melakukan sejumlah mitigasi bencana, baik gempa maupun tsunami yang diprediksi terjadi di Selatan Pulau Jawa, termasuk Jawa Barat. Kepala BPBD Jabar, Dani Ramdan mengatakan prediksi kemungkinan adanya tsunami di Laut Jawa bagian Selatan sebenarnya bukan hal baru, dan sudah sering disampaikan para peneliti.

Dani mengatakan, dengan seringnya informasi ini diberikan, masyarakat yang ada berdiam atau berwirasusaha di sekitar pantai selatan Jawa pun sudah mempunyai mitigasi bencana.  "Artinya mereka sudah tahu bagimana jika ada tanda-tanda tsunami, dan tahu harus berlari ke mana," ujar Dani, kepada wartawan akhir pekan ini.

Baca Juga

Dani menjelaskan, mitigasi lain yang dimiliki BPBD adalah keberadaan empat alat early warning system atau pendeteksi dini jika memang ada gempa yang berpotensi pada tsunami. Menurutnya, dua alat berada di Kabupaten Pangandaran, dan dua alat lainnya berada di pantai selatan lainnya. 

Namun, saat ini hanya dua alat yang berfungsi di Pangandaran, sedangkan dua alat lainnya rusak dan harus diperbaiki. BPBD Jabar, kata dia, sejauh ini sudah melakukan komunikasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait kerusakan alat tersebut. 

"Akan ada perbaikan alat. Dua itu satu di daerah Cipatujah dan satunya lagi di pantai lain karena memang berjarak satu sama lain," katanya.

Di sisi lain, kata dia, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan BMKG. Dengan demikian, ketika ada tanda-tanda bencana apapun yang tertangkap oleh radar BMKG bisa langsung disampaikan ke BPBD setempat.

Selain alat yang tengah diperbaiki, kata dia, mitigasi saat ini mulai dijalankan kembali khususnya di daerah yang didatangi wisatawan seperti Pangandaran dan Sukabumi. Pelaku usaha mulai dari pemandu wisata, pemilik penginapan, hingga restoran diajak berbenah bersama dan berlatih kembali terkait mitigasi bencana.

Sebab, kata dia, bisa jadi setiap karyawan yang bekerja sebelumnya sudah berpindah dan digantikan orang baru. Maka perlu ada pelatihan kepada mereka karyawan baru agar mengetahui mitigas bencana di kawasan tempat mereka bekerja.

"Kalau pemilik tempat ini atau pemandu wistawanya sudah pandai dalam mitigasi mereka akan tahu harus mengarahkan wisatawa ke mana ketika terjadi bencana," kata Dani.

Rencannya, kata dia, pelatihan ini mulai dilakukan pekan depan melibatkan banyak pihak. Selain meningkatkan kewaspadaan dan ilmu mitigasi bencana kepada pelaku wisata, BPBD Jabar pun telah merangkul desa wisatawa yang ada di sekitar selatan Jabar. Setidaknya ada 120 desa tangguh bencana yang siap menjadi garda terdepan dalam mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi.

Di desa ini, menurut Dani, BPBD setempat melakukan pelatihan kepada masyasrakat temasuk guru dan murid agar paham bagaimana cara untuk bertahan dari bencana dan apa yang dilakukan pascabencana.

"Kita juga mengajarkan mengenai tata ruang yang baik, seperti menjaga hutan bakau yang tangguh menghalau terjarangan ombak," katanya.

Dani berharap, para wisatawan dari Jabar dan luar daerah, tidak takut ketika ingin bermain di pantai Jawa Barat. Karena, Dani memastikan mitigasi bencana sudah disiapkan semaksimal mungkin.

Dani menilai, kajian mengenai bencana seperti tsunami atau gempa bumi justru berdampak baik bagi pemerintah daerah karena nantinya bisa menyiapkan mitigasi yang lebih optimal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement