Sabtu 03 Oct 2020 04:05 WIB

Ternyata, Duduk Bisa Bantu Jaga Kesehatan Otak

Duduk menjaga korteks otak atau lapisan terluar dari otak tetap tebal dan sehat.

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah
Duduk menjaga korteks otak atau lapisan terluar dari otak tetap tebal dan sehat (Foto: ilustrasi kesehatan otak)
Foto: www.freepik.com
Duduk menjaga korteks otak atau lapisan terluar dari otak tetap tebal dan sehat (Foto: ilustrasi kesehatan otak)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terlalu lama duduk dianggap kurang baik bagi kesehatan. Namun penelitian terbaru membawa kabar baik bahwa saat duduk pun tetap dapat menjaga kesehatan otak, bahkan jika tidak banyak bergerak sekalipun.

Hal itu karena duduk menjaga korteks otak atau lapisan terluar tetap tebal dan sehat. Seiring bertambahnya usia, korteks secara alami menipis. Ini adalah proses yang dikenal sebagai penipisan kortikal, dan telah dikaitkan dengan penurunan kognitif terkait usia.

Baca Juga

Dilansir di laman Bicycling, Jumat (2/10) sebuah penelitian menunjukkan penipisan lapisan otak bisa dicegah dengan beberapa cara, salah satunya dengan aktivitas fisik sedang hingga berat secara teratur, seperti bersepeda. Sementara yang lainnya adalah membatasi perilaku tidak aktif, seperti duduk di meja sepanjang hari.

Namun, belum jelas apakah olahraga dapat melindungi dari penipisan itu sendiri atau tidak. Untuk mengetahuinya, sekelompok ilmuwan dari British Columbia mengukur tingkat aktivitas, perilaku menetap, dan ketebalan kortikal dari 30 orang dewasa, dengan usia rata-rata 61 tahun.

Peserta studi tersebut juga terdaftar dalam penelitian lain tentang peningkatan olahraga dan mengurangi waktu duduk di antara orang dewasa dengan osteoartritis lutut. Para peneliti melacak latihan peserta dan waktu menetap menggunakan pelacak kebugaran selama tujuh hari dan menggunakan pemindaian MRI untuk mengukur ketebalan kortikal mereka.

Kelompok tersebut mendapat rata-rata 70 menit aktivitas fisik sedang hingga berat setiap hari. Mereka menghabiskan hampir 12 jam sehari melakukan apa pun yang tidak lebih berat daripada membaca buku atau menjelajahi web di luar latihan harian mereka.

Ketika para peneliti mengolah data dan membandingkan pemindaian otak, mereka menemukan bahwa tingkat aktivitas fisik yang tinggi dikaitkan dengan ketebalan kortikal yang lebih besar, terutama di area frontal, terlepas dari waktu menetap mereka. Tidak ada hubungan antara penurunan ketebalan atau penipisan dengan perilaku menetap yang lebih banyak di luar olahraga.

“Salah satu penjelasan potensial adalah bahwa jumlah MVPA yang lebih tinggi [aktivitas fisik sedang hingga kuat] memberikan respons pelindung saraf yang kuat, yang memperbaiki konsekuensi negatif dari terlalu banyak SB [perilaku menetap],” tulis penulis penelitian dalam Medicine & Science in Sports & Exercise.

Menjaga korteks tetap tebal dengan olahraga teratur dapat membantu menangkis demensia dan penyakit otak. Menurut penelitian tersebut, memenuhi pedoman olahraga saat ini setidaknya 150 menit seminggu, kurang dari setengah jam sehari, olahraga sedang hingga berat juga dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer hingga 38 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement