Rabu 30 Sep 2020 16:46 WIB

Pandemi, Perbankan Harus Percepat Investasi Layanan Digital

Perbankan bisa memanfaatkan komisi untuk meningkatkan pendapatan.

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha
Perbankan perlu mempercepat investasi digital untuk meningkatkan efisiensi perusahaan di tengah pandemi.
Foto: Bank BTN
Perbankan perlu mempercepat investasi digital untuk meningkatkan efisiensi perusahaan di tengah pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut industri perbankan perlu memanfaatkan kondisi pandemi Covid-19. Salah satunya dengan mempercepat investasi digital untuk meningkatkan efisiensi perusahaan.

Ekonom Indef Aviliani mengatakan kenaikan biaya di tengah pendapatan perbankan akan membuat rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). 

“Perbankan bisa memanfaatkan pendapatan fee dan komisi atau fee based income untuk meningkatkan pendapatan,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (30/9).

Menurutnya investasi digital akan bisa meningkatkan fee based income perbankan. Hanya saja, kondisi tersebut tidak rata semua kategori bank.

“Biasanya fee based income yang tinggi akan memiliki kecenderungan BOPO yang rendah. BOPO yang bagus masih butuh efisiensi dan kita akan berinvestasi besar-besaran digital,” ucapnya.

Sementara Direktur Finance, Strategy & Treasury PT Bank Syariah Mandiri Ade Cahyo Nugroho menambahkan saat ini telah terjadi penurunan nasabah perusahaan yang mengunjungi cabang hingga 40 persen pada Juni 2020 dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Bahkan, transaksi melalui mobile banking volumenya meningkat hingga 94 persen pada Juni 2020. 

“Kondisi ini membuat fee based income perusahaan meningkat 100 persen,” ucapnya.

Menurutnya kondisi pandemi harus dimanfaatkan dengan baik oleh perbankan untuk meningkatkan pendapatan dari fee based income dan melakukan efisiensi karena turunnya biaya operasi.

"Opportunity ini ada hanya memang perbankan harus memahami behaviour nasabah," ucapnya.

Direktur UMK & Usaha Syariah PT Bank DKI Babay Parid Wazdi mengatakan perusahaan berupaya bersaing dengan bank-bank besar lainnya. Setidaknya, inovasi layanan yang diberikan kepada nasabah harus mengimbangi bank-bank besar yang ada.

“Sejak 2007, Bank DKI pun merilis Jakcard yang difungsikan untuk kartu pembayaran Transjakarta. Lalu, pada 2016 Bank DKI mengeluarkan Jakarta One yang merupakan sistem terpadu dengan beberapa fungsi mulai dari sistem pembayaran dan penyaluran kebijakan publik,” ucapnya.

Menurutnya pada 2017, Bank DKI meluncurkan JakOne Mobile yang berfungsi sebagai mobile banking dan mobile wallet untuk melakukan transaksi sehari-hari. Kemudian pada 2019, telah diluncurkan JakOne Community yang memberikan layanan JakOne transport, JakOne School, hingga JakOne Hospital.

"Kami transformasi karena ingin tumbuh di tengah raksasa besar, setidaknya kami bisa mengimbangi atau tidak melebihi. Transformasi yang kami lakukan pun bertahap," ucapnya.

Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Sis Apik Wijayanto mengatakan perseroan sudah melakukan inovasi digital sejak lama termasuk dalam pengembangan mobile banking dan sejumlah aplikasi maupun platform lain. 

“Adanya pandemi Covid-19 membuat perbankan harus lebih gencar mempercepat digitalisasi,” ucapnya.

Menurutnya terdapat tren-tren yang mengalami percepatan industri perbankan yakni cashless payment, digital channel, digital attacker, proteksi terhadap produk, dan penurunan pinjaman konsumen ritel. Tercatat sebanyak 30 persen nasabah berpindah ke digital, porsi online customers sebanyak 15 persen, peningkatan pembayaran digital sebanyak 57 persen, dan peningkatan 30 persen volume pengajuan kredit secara online yang dilakukan UKM.

"Aktivitas perbankan akan bergulir dengan batasan yang semakin melebur dengan keseharian,lifestyle, ekosistem yang ada masyarakat," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement