Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Alat Tes Cepat Covid-19 akan Disebar ke Negara Miskin

Selasa 29 Sep 2020 13:16 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Petugas medis memperlihatkan sampel tes usap (swab test) Covid-19

Petugas medis memperlihatkan sampel tes usap (swab test) Covid-19

Foto: SYIFA YULINNAS/ANTARA
Alat tes Covid-19 yang lebih akurat hanya membutuhkan waktu paling lama 30 menit.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Tes untuk mendeteksi virus Covid-19 dalam tubuh manusia yang menunjukkan hasil langsung dalam 15 hingga 30 menit akan segera diluncurkan ke seluruh dunia. Hal itu berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa dan memperlambat pandemi di negara kaya dan miskin sekalipun.

Seperti dilansir laman Guardian, dalam kesuksesan inisiatif global untuk memperoleh obat-obatan dan vaksin melawan virus, 120 juta tes antigen cepat dari dua perusahaan farmasi akan dipasok ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang masing-masing seharga 5 dolar AS atau bahkan kurang. Tes Covid-19 terlihat seperti tes kehamilan, dengan dua garis biru ditampilkan positif. Satu tes dari satu perusahaan telah mendapat persetujuan darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan yang lainnya diharapkan segera mendapatkannya.

Baca Juga

Tes yang cepat dan mudah tetap berkualitas tinggi akan memungkinkan dilakukannya skrining massal terhadap petugas kesehatan, yang meninggal dalam jumlah yang tidak proporsional di negara berpenghasilan rendah. Negara-negara kaya yang telah mendaftar ke Access to Covid tools inisiatif (akselerator ACT), seperti yang dimiliki Inggris, juga akan dapat memesan tes.

Inisiatif tersebut diluncurkan pada Maret oleh WHO, komisi Eropa, Gates Foundation dan pemerintah Prancis. Sebagai imbalan atas jaminan volume dari Gates Foundation, perusahaan membuat 20 persen dari produksi mereka tersedia untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dan 80 persen untuk sisanya. Jerman telah memerintahkan tes 20 juta dan Prancis serta Swiss mengikuti.

Pemerintah Inggris sangat ingin mendapatkan tes virus cepat. Hal itu disinyalir sebagai inti dari proposal "moonshot" yang bocor baru-baru ini, tetapi tidak jelas apakah mereka bermaksud untuk membeli tes ini atau tidak. Tes itu juga telah dicoba dalam tes air liur buatan Inggris serta tes antigen cepat, yang keduanya membutuhkan waktu sekitar 90 menit. Tes air liur sedang diujicobakan di Salford dan Southampton, sementara DnaNudge, yang menggunakan swab yang dibaca oleh Nudgebox, sedang digunakan di beberapa rumah sakit National Health Service (NHS).

Namun demikian, tes antigen cepat yang disetujui WHO lebih cepat dan lebih mudah, serta lebih murah, dan dapat digunakan untuk pemeriksaan di sekolah, universitas, dan tempat kerja. Negara yang mampu membelinya dapat menyaring secara lebih umum. Meskipun tes tidak akan mengambil semua kasus, tes ini dapat memungkinkan banyak orang yang terinfeksi diidentifikasi sebelum mereka memiliki gejala dan masuk ke karantina.

Salah satu tes, dari perusahaan Korea Selatan SD BioSensor, baru saja diberikan persetujuan darurat oleh WHO. Sementara yang lain, dari perusahaan AS, Abbott, diharapkan segera mendapatkannya untuk tes yang diproduksi di Korea Selatan.

CEO dari yayasan nirlaba Foundation for Innovative New Diagnostics (Find), Catharina Boehme mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pemesanan massal untuk pengujian dengan cepat sehingga negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak akan rugi soal pertarungan global untuk tes cepat, seperti yang mereka lakukan saat tes PCR keluar.

"Kami melihat tekanan pasokan meningkat dengan cepat. Itu sebabnya kami membutuhkan jaminan volume ini. Kami perlu mengamankan volume untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, sebelum semua negara lain memesan dan populasi miskin kembali merugi," ujar Boehme.

Saat ini hanya ada sedikit pengujian di sebagian besar negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sementara itu, Amerika Utara menguji 395 orang per 100 ribu populasi setiap hari dan Eropa menguji 243, Afrika menguji kurang dari 16, dan sebagian besar di Maroko, Kenya dan Senegal.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA