Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Kasus Harian Covid-19 Korsel Terendah Sejak Gelombang Kedua

Senin 28 Sep 2020 15:22 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Korea Selatan mengonfirmasi penambahan infeksi Covid-19 pada Senin sebanyak 50 kasus, angka harian terendah sejak kemunculan wabah gelombang kedua di negara itu pada Agustus lalu. Ilustrasi.

Korea Selatan mengonfirmasi penambahan infeksi Covid-19 pada Senin sebanyak 50 kasus, angka harian terendah sejak kemunculan wabah gelombang kedua di negara itu pada Agustus lalu. Ilustrasi.

Foto: AP
Gelombang kedua Covid-19 di Korsel muncul sejak Agustus lalu

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL - Korea Selatan mengonfirmasi penambahan infeksi Covid-19 pada Senin sebanyak 50 kasus, angka harian terendah sejak kemunculan wabah gelombang kedua di negara itu pada Agustus lalu. Dengan demikian totalnya menjadi 23.661 kasus.

Dari penambahan itu, sebanyak 40 kasus terjadi dengan penularan lokal, sementara 10 kasus lainnya datang dari luar negeri. Demikian keterangan Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan.

Gelombang kedua wabah Covid-19 terjadi mulai 11 Agustus dari klaster baru jemaat gereja di Seoul, yang kemudian menghadiri sebuah aksi unjuk rasa anti pemerintah di kota itu pada 15 Agustus. Sejak itu, kasus harian di Korea Selatan meningkat hingga yang tertinggi di angka lebih dari 440 kasus di akhir bulan.

Wabah baru ini membuat pemerintah mengambil langkah pembatasan sosial yang sebelumnya tidak diterapkan di negara itu, termasuk pelarangan makan malam di restoran.

Sejumlah peraturan telah dilonggarkan dalam beberapa pekan terakhir setelah angka kasus harian terlihat mengalami penurunan. Namun otoritas masih mewaspadai kemungkinan penularan lebih banyak selama masa liburan Chuseok pekan ini. Pada liburan Chuseok, biasanya masyarakat Korea Selatan bepergian di dalam negeri dan berkumpul bersama keluarga.

Pemerintah menyebut aturan pembatasan sosial akan tetap berlaku selama liburan. Pemerintah meminta masyarakat untuk menahan diri dari melakukan perjalanan dan perkumpulan serta melarang protes yang direncanakan oleh beberapa kelompok sipil.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA