Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Macron Malu dengan Sikap Pemimpin Politik di Lebanon

Senin 28 Sep 2020 08:27 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan para pemimpin Lebanon karena lebih melayani kepentingan pribadi ketimbang negara. Ilustrasi.

Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan para pemimpin Lebanon karena lebih melayani kepentingan pribadi ketimbang negara. Ilustrasi.

Foto: AP/Gonzalo Fuentes/Reuters Pool
Para pemimpin Lebanon karena lebih melayani kepentingan pribadi ketimbang negara

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan para pemimpin Lebanon karena lebih melayani kepentingan pribadi ketimbang negara. Dia berjanji akan terus maju untuk mencegah kekacauan yang terjadi di negara bekas koloni Paris itu.

"Saya malu dengan para pemimpin politik Lebanon. Para pemimpin tidak ingin, secara jelas dan tegas, menghormati komitmen yang dibuat untuk Prancis dan komunitas internasional. Mereka memutuskan untuk mengkhianati komitmen ini," kata Macron pada konferensi pers di Paris, Ahad (27/9).

Perdana Menteri Lebanon yang ditunjuk, Mustapha Adib, mundur sehari sebelum pernyataan Macron. Keputusan ini ia ambil setelah dia gagal membentuk kabinet non-partisan dan menjadi pukulan terhadap rencana Prancis yang bertujuan mengumpulkan para pemimpin sektarian untuk mengatasi krisis negara.

Untuk pertama kali, Macron juga secara khusus mempertanyakan peran Hizbullah yang bersenjata lengkap dan pengaruh Iran. Dia mengatakan kelompok tersebut perlu mengangkat ambiguitasnya di arena politik.

"Hizbullah tidak bisa menjadi tentara yang berperang dengan Israel, milisi yang tidak terkendali melawan warga sipil di Suriah dan partai terhormat di Lebanon," kata Macron.

Macron juga mengecam politisi Muslim Sunni terkemuka Saad al-Hariri. Dia mengkritik kedua belah pihak karena menghalangi upaya untuk membentuk pemerintahan pada tenggat waktu pertengahan September.

Adib dipilih pada 31 Agustus untuk membentuk kabinet setelah intervensi Macron mendapatkan konsensus di negara dengan sistem kekuasaan dibagi antara Muslim dan Kristen. Di bawah peta jalan Prancis, pemerintah baru akan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi korupsi dan melaksanakan reformasi yang diperlukan.

Upaya ini ditempuh untuk memicu miliaran dolar dalam bentuk bantuan internasional guna memperbaiki ekonomi yang dihancurkan oleh utang yang sangat besar.

Namun ada kebuntuan atas permintaan dua kelompok utama Syiah Lebanon, Amal dan Hizbullah. Mereka menginginkan posisi beberapa menteri, termasuk keuangan, yang akan memiliki peran besar dalam menyusun rencana penyelamatan ekonomi.

Macron mengatakan akan mengumpulkan mitra internasional dalam 20 hari untuk mempertahankan usahanya dan mengadakan konferensi bantuan pada akhir Oktober. Dia menggambarkan peristiwa beberapa hari terakhir sebagai pengkhianatan dan para pemimpin politik telah memilih untuk menyerahkan Lebanon ke permainan kekuatan asing.

Pemimpin politik pun diberi waktu empat sampai enam pekan untuk melakukan pertimbangan. "Ini adalah sistem teror. Sistem ini tidak lagi maju dan beberapa lusin orang meruntuhkan sebuah negara dan rakyatnya. Inisiatif Prancis akan terus berlanjut. Komitmen saya ... tidak akan goyah," tegas Macron.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA