Sabtu 26 Sep 2020 14:01 WIB

Misteri Kehidupan Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri adalah penyair agung di rantau Sumatra.

Misteri Kehidupan Hamzah Fansuri
Foto: harakah islamiyah
Misteri Kehidupan Hamzah Fansuri

REPUBLIKA.CO.ID, ACEH -- Tidak diragukan oleh semua pegiat sastra Nusantara bahwa Hamzah Fansuri adalah penyair agung di rantau Sumatra. Disebutkan oleh A Teeuw, ketika Valentijn (seorang sarjana Belanda) mengunjungi Barus pada 1706, ia membuat catatan yang menunjukkan kekagumannya pada sang penyair.

''Seorang penyair Melayu, Hamzah Pansur, adalah sosok terkemuka di lingkungan orang-orang Melayu karena syair dan puisinya yang menakjubkan. Kita terbuat karib kembali dengan kota kelahiran sang penyair jika ia mengangkat naik timbunan debu kebesaran dan kemegahan masa lampau,'' tulis Valentijn seperti dikutip A Teeuw dalam The Malay Shai'r: Problems of Origin and Tradition.

Baca Juga

Punya nama besar dan karya-karya agung, rupanya tidak serta-merta nama Hamzah Fansuri termaktub dalam kitab-kitab sejarah. Tidak ada data sejarah yang mengungkap kapan dan di mana ia lahir, serta bagaimana perjalanan kehidupannya. Bahkan, di mana ia dimakamkan, tidak diketahui sampai sekarang. A Teeuw hanya mereka-reka bahwa Hamzah Fansuri hidup pada abad ke-16 M.

Memang ada beberapa syair Hamzah Fansuri yang secara jelas menyebutkan di mana ia berasal dan pernah tinggal. Berikut salah satu contohnya:

Hamzah Fansuri di dalam Makkah

Mencari Tuhan di Bait-Ka'bah

Di Barus ke Qudus terlalu payah

Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Ada kata Fansuri dan Barus di syair itu. Valentijn dalam catatannya juga menyebut kata 'Pansur'. Menurut A Teeuw, Pansur yang dalam bahasa Arab disebut Fansur adalah nama lain dari Barus. Kata fansur yang kemudian menjadi Fansuri menandakan sang penyair berasal dari kota itu.

Lantas, apa yang menyebabkan minimnya data sejarah hidup Hamzah Fansuri? Dari penelusuran Abdul Hadi terungkap bahwa sikap kritis beliau terhadap perilaku politik sultan Aceh membuatnya tidak disenangi oleh penguasa.

''Kritik-kritiknya yang tajam terhadap perilaku politik dan moral raja-raja, para bangsawan, dan orang-orang kaya Aceh menjadikannya dikenal sebagai orang yang paling berani. Tidak mengherankan, jika kalangan istana Aceh tidak menyukai kegiatan Syekh dan para pengikutnya,'' jelas Abdul Hadi dalam Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya.

Hal itu, lanjut Abdul Hadi, mengakibatkan nama Hamzah Fansuri tidak tercatat dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis oleh pihak istana. Namanya sama sekali tidak disebutkan dalam Hikayat Aceh maupun Bustan Al-Salatin, dua sumber sejarah Aceh yang paling penting. Padahal, siapa pun tak menyangkal ketokohannya dalam bidang spiritual maupun sastra.

Nuruddin ar-Raniri, seorang ulama terkemuka Aceh dalam beberapa karyanya menyebutkan nama Syamsuddin al-Sumatrani, murid Hamzah Fansuri, namun ia tidak menyebut nama sang guru. Harun Mat Piah dalam Traditional Malay Literature memperkirakan sikap Nuruddin itu dipicu oleh perbedaan pandangan keagamaan antara keduanya.

Jamak diketahui oleh ahli sejarah bahwa Nuruddin menolak konsep Wahdat al-Wujud yang dianut Hamzah Fansuri. Nuruddin-lah yang konon menyarankan sultan untuk membakar karya-karya Hamzah Fansuri. Meski demikian, masih ada beberapa karya sang penyair yang dapat diselamatkan. Di antaranya Syair Dagang, Syair Perahu, Syair Sidang Fakir, dan Syair Burung Pingai. Sedangkan, karya prosanya yang selamat, antara lain Syarab al-'Asyikin, Asrar al-'Arifin, dan al-Muntahl.

sumber : Pusat Data Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement