Jumat 25 Sep 2020 13:35 WIB

Kiai Azaim Gelar Pengajian Daring Pakai Masker

Pondok pesantren Sukorejo memang memperketat protokol kesehatan

Rep: Muhyiddin./ Red: Esthi Maharani
Dakwah bisa dilakukan melalui internet. Ilustrasi
Foto: kval.com
Dakwah bisa dilakukan melalui internet. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SITUBONDO -- Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy menggelar pengajian Tafsir Jalalain dan Kitab Burdah secara daring di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jum’at (25/9).

Di masa pandemi Covid-19 ini, pondok pesantren Sukorejo memang memperketat protokol kesehatan. Karena itu, dalam pengajian daring ini Kiai Azaim pun tetap menggunakan masker.

Dalam pengajian ini, cucu KHR As’ad Syamsul Arifin ini menjelaskan tentang tafsir Surat Ali Imran ayat 154, yang artinya:

“Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia (Allah) menurunkan rasa aman kepada kamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: "Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?" Katakanlah: Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah. (QS Ali Imran: 154).

Dalam menjelaskan ayat tersebut, Kiai Azaim mengungkapkan bahwa dalam kondisi peperangan saat itu kaum muslimin mengalami rasa kantuk sambil memegang perisai untuk bertahan dari serangan musuh. “Jadi pada saat bertahan menggunakan perisai, ngantuk,” ujar Kiai Azaim di Pendopo Pengasuh, Juma’at (28/10) pagi.

Menurut Kiai Azaim, rasa kantuk itu memang sudah biasa dihadapi oleh tentara. Suatu waktu, Kiai Azaim pun pernah berdiskusi dengan seorang tentara yang menyatakan bahwa saat bergerilya di hutan tentara itu juga mengalami rasa kantuk. Tapi, selelah apapun tentara tersebut harus menempuh perjalanan, sehingga mereka pun sudah terbiasa tertidur sesaat sambil berjalan.  

Kiai Azaim mengatakan, rasa kantuk yang dialami kaum muslimin tidak diniatkan karena dalam kondisi perang. Dia pun kemudian menyamakan medan pertempuran itu dengan kegiatan mengaji para santri yang sedang melawan kebodohan.

“Kalau para tentara senjatanya degan pedang, maka santri thalibil ilmi (mencari ilmu) dengan pena, menuliskan," kata Kiai Azaim.

“Nah ini santri sedang bertempur. Ketika ada nuas (kantuk) yang tidak disengaja, Alhamdulillah segar lagi. Jatuh pennya kemudian diambil lagi,” imbuhnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement