Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Bagaimana Cara Virus Corona Menyerang Otak?

Jumat 25 Sep 2020 06:15 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Virus penyebab Covid-19 ini juga bisa menyerang otak.

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Virus penyebab Covid-19 ini juga bisa menyerang otak.

Foto: CDC via AP, File
Virus corona tak saja menyerang organ pernapasan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Virus penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, umumnya menyerang paru. Akan tetapi, virus ini juga bisa menyerang beragam organ penting lainnya, seperti ginjal, hati, pembuluh darah, dan bahkan otak.

Sekitar setengah pasien Covid-19 melaporkan adanya gejala neurologis seperti sakit kepala, kebingungan, dan mengigau. Gejala-gejala ini mengindikasikan bahwa SARS-CoV-2 juga dapat menyerang otak.

Sebuah studi terbaru berhasil memberikan bukti pertama yang jelas bahwa SARS-CoV-2 dapat menyerang sel-sel otak pada sebagian orang. Di sel-sel otak tersebut, SARS-CoV-2 lalu memperbanyak diri.

Tak hanya itu, virus ini juga tampak merebut semua oksigen yang ada di dekat mereka. Hal ini membuat sel-sel di dekatnya mati.

Belum diketahui secara jelas bagaimana SARS-CoV-2 bisa sampai ke otak atau seberapa sering hal ini terjadi. Infeksi di otak cenderung langka, akan tetapi beberapa orang dapat menjadi lebih rentan bila memiliki latar genetik tertentu, muatan virus yang tinggi, atau alasan lain.

"Bila otak terinfeksi, kondisi tersebut bisa memiliki konsekuensi yang mematikan," jelas ahli imunologi sekaligus ketua tim peneliti dari Yale University Akiko Iwasaki, seperti dilansir Independent.

Studi yang dipublikasikan oleh konsultan neurologi Dr Michael Zandi dari National Hospital for Neurology and Neurosurgery pada Juli lalu telah menunjukkan bahwa sebagian pasien Covid-19 mengalami komplikasi neurologis yang serius. Salah satu yang ditemukan adalah kerusakan saraf.

Dalam studi terbaru ini, Iwasaki dan tim peneliti mendokumentasikan infeksi SARS-CoV-2 pada otak dengan tiga cara. Ketiga cara tersebut adalah melalui jaringan otak dari pasien yang meninggal akibat Covid-19, model tikus, dan dalam organoid.

Hasil studi menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat menurunkan jumlah sinapsis secara cepat ketika menginfeksi sel-sel otak. Sinapsis merupakan penghubung antarneuron di otak.

"Beberapa hari setelah infeksi, dan kami sudah melihat penurunan dramatis dalam jumlah sinapsis. Kami belum tahu apakah ini bisa dipulihkan atau tidak," jelas ahli saraf Alysson Muotri dari University of California.

Virus SARS-CoV-2 bisa menginfeksi sel-sel di dalam tubuh melalui protein bernama ACE2 yang ada di permukaan virus. Reseptor ACE2 juga bisa dijumpai pada berbagai organ tubuh, seperti paru-paru.

Studi terdahulu mengungkapkan bahwa otak memiliki ACE2 yang sangat kecil. Meski begitu, studi yang dilakukan Iwasaki menemukan bahwa SARS-CoV-2 tetap bisa memanfaatkan "pintu" tersebut untuk menginfeksi sel-sel otak.

Tim peneliti perlu melakukan lebih banyak autopsi untuk mengestimasi seberapa umum infeksi di otak terjadi dalam kasus Covid-19. Cara ini juga dapat membantu peneliti memahami apakah infeksi di otak bisa terjadi pada semua tingkat keparahan Covid-19 atau tidak.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA