Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Teka Teki Covid-19

Jumat 25 Sep 2020 05:54 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Dr Suwendi

Dr Suwendi

Foto: Dokumentasi Pribadi
Semua orang berpotensi terkena covid-19, di manapun dan kapanpun

Oleh Dr Suwendi, M.Ag, Alumni Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan Pesantren Sabilussalam, Ciputat. Pendiri Pesantren Nahdlah Bahriyah Cantigi, Indramayu. Penderita Covid-19 tinggal di Ciputat

REPUBLIKA.CO.ID, Virus itu dari mana asalnya? Itulah pertanyaan yang sangat susah dicari jawabannya. Kala itu, hari senin 7 September 2020 merupakan hari kepastian bahwa saya dinyatakan positif mengidap penyakit Covid-19 berdasarkan swab pada laboratorium Fakultas Kedokteran pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Meski ditengarai potensial berasal dari kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 27 Agustus 2020, namun kenyataannya menunjukkan hal yang cukup rumit. Mengapa kegiatan 27 Agustus 2020 ini diungkap? disebabkan pada tanggal 3 September 2020 belakangan diketahui salah satu peserta daerah yang dinyatakan positif covid-19. Artinya, 10 hari pasca pertemuan terdapat hasil swab dari salah satu peserta yang dinyatakan positif covid-19.

Masa 10 hari pasca kegiatan, tentu saya dan kawan-kawan tidak berdiam diri, terdapat sejumlah aktivitas dan perjalanan dari satu titik ke titik lain, bertemu dengan berbagai kawan, kerabat, keluarga, dan lain-lain. Oleh karenanya, hasil swab itu rumit difahami dari mana sesungguhnya virus itu berasal. 

Mengapa? Pertama, ternyata tidak semua peserta yang mengikuti kegiatan itu dinyatakan positif covid-19. Bahkan, sebagian besar malah justeru sebaliknya. Salah seorang kawan yang posisi duduknya berseberangan persis dengan yang belakangan diketahui terinfeksi covid-19 itu justru negatif hasil swabnya, sementara saya yang posisi duduknya cukup jauh justeru positif.

Kedua, terdapat kawan satu kantor yang tidak mengikuti kegiatan 27 Agustus 2020 tersebut, dan tidak pernah bertemu dengan kawan-kawan yang mengikuti kegiatan tersebut, tetapi hasil swabnya dinyatakan positif covid-19. Ini menjadi variabel yang rumit lagi. Bahkan, keluarga yang setiap hari kontak langsung dengan saya, hasil swab tanggal 8 September 2020 dinyatakan negatif. Tentu, saya bersyukur atas hasil swab keluarga saya ini. Akan tetapi, dalam konteks dari mana virus itu berasal, sungguh tidak bisa ditentukan secara pasti.

Fenomena ini patut menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua untuk memiliki sikap yang bijak. Pertama, kita perlu waspada atas Covid-19. Kewaspadaan yang sungguh-sungguh. Covid-19 memang nyata adanya. Ribuan orang telah terpapar dengan virus yang amat kecil ini, dengan tanpa mengenal agama, ras, jenis kelamin, status sosial, negara, dan batas-batas lainnya.

Semua orang berpotensi terkena covid-19, di manapun dan kapanpun. Kewaspadaan dengan memiliki sikap menjaga diri dan berusaha untuk tidak tertular atau menularkan dari/kepada orang lain. Himbauan pemerintah dengan psychal distancing (jaga jarak), selalu mengenakan masker, sering cuci tangan, dan berpola hidup bersih dan sehat merupakan langkah bijak yang perlu ditaati dan dilakukan.

Kedua, kita perlu berempati dengan siapapun yang terpapar covid-19, baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal.  Orang yang positif covid-19 bukanlah “tersangka”, bukanlah “pelaku” yang menjadikan diri kita sial karenanya. Akan tetapi, dialah orang yang perlu diberikan empati agar memiliki kekuatan sehingga imunitasnya kuat dalam melawan covid-19 yang sedang bersarang di dalam dirinya. Siapapun di dunia ini sungguh tidak ada satu orang pun yang ingin dan memiliki kemauan dihinggapi virus ini. Belajar berempati merupakan langkah bijak yang perlu ditanamkan dalam setiap diri.

 

Ketiga, tidak perlu menyalahkan siapapun dan mencari “kambing hitamnya”. Saling menyalahkan merupakan bagian sikap destruktif yang tidak patut dilakukan. Ini penting untuk ditanamkan agar keharmonisan relasi sosial, termasuk relasi dalam kehidupan berkeluarga, tetap terjamin. Sungguh, orang bijak adalah orang yang sibuk dengan mengevaluasi dirinya, bukan mencari-cari kesalahan orang lain.

Keempat, ketundukan total dengan skenario Tuhan sebagai takdir yang terbaik bagi diri kita merupakan sikap batin yang akan mampu menggerakkan energi positif sehingga kita dapat menjalani kehidupan ini dengan tulus ikhlas. Manusia wajib berusaha dan keputusan ada di tangan Tuhan merupakan “mesin batin” yang harus tertanam dalam setiap diri.  Semoga manfaat.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA