Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Raja Salman Tegaskan Posisinya Soal Hizbullah di Sidang PBB

Kamis 24 Sep 2020 12:05 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Christiyaningsih

 Pendukung Hizbullah membawa potret mendiang pemimpin Hizbullah Imad Mughnyeh, plakat dan bendera Hizbullah selama protes menentang kunjungan Komandan Komando Pusat Angkatan Darat AS, Kenneth Franklin McKenzie ke Lebanon. Menurut Raja Salman Hizbullah harus dilucuti agar Lebanon dapat mencapai keamanan dan kemakmuran. Ilustrasi.

Pendukung Hizbullah membawa potret mendiang pemimpin Hizbullah Imad Mughnyeh, plakat dan bendera Hizbullah selama protes menentang kunjungan Komandan Komando Pusat Angkatan Darat AS, Kenneth Franklin McKenzie ke Lebanon. Menurut Raja Salman Hizbullah harus dilucuti agar Lebanon dapat mencapai keamanan dan kemakmuran. Ilustrasi.

Foto: EPA-EFE/WAEL HAMZEH
Hizbullah harus dilucuti agar Lebanon dapat mencapai keamanan dan kemakmuran

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Raja Salman berpidato di sidang umum PBB kemarin. Menurut dia, Hizbullah harus dilucuti agar Lebanon dapat mencapai keamanan, stabilitas, dan kemakmuran.

Raja Salman melanjutkan, ledakan yang terjadi di Beirut pekan lalu menjadi bukti hegemoni Hizbullah. Kelompok yang didukung Iran itu, kata dia, telah mengganggu konstitusional Lebanon.

Atas dasar itu, dirinya juga menegaskan Saudi akan terus mendukung rakyat Lebanon. Khususnya, pascaledakan besar yang menewaskan sedikitnya 200 orang itu.

Raja Salman juga menyebut akan mengulurkan tangan dan perdamaian pada Iran. Bahkan, dirinya juga mengklaim akan menilai positif dan terbuka mengenai hubungannya dengan Teheran.

Sejauh ini, kata dia, Saudi telah berupaya membangun hubungan baik dalam menangani permasalahan nuklir Iran. Namun, rezim Iran ia nilai malah meningkatkan aktivitasnya dan membangun jaringan terorisme.
 
“Berulang kali, seluruh dunia telah melihat rezim Iran menggunakan terorisme dan menyia-nyiakan sumber daya serta kekayaan rakyat Iran untuk mencapai proyek-proyek ekspansif yang hanya menghasilkan  kekacauan, ekstremisme, dan sektarianisme," kata dia dikutip dari Arab News, Kamis (24/9).

Raja Salman mengatakan pendekatan agresif Iran ditunjukkan tahun lalu ketika menargetkan instalasi minyak Saudi dalam serangan rudal dan pesawat tak berawak. Hal itu tentu dianggapnya melanggar hukum internasional dan juga menyerang perdamaian serta keamanan internasional.

"Pengalaman kami dengan rezim Iran telah mengajarkan kami bahwa solusi parsial dan upaya untuk menenangkan tidak menghentikan ancamannya terhadap perdamaian dan keamanan internasional," jelasnya.

Sebaliknya, dia mengatakan perlu ada solusi komprehensif dan sikap internasional yang tegas. Khususnya, yang menjamin perlakuan radikal terhadap pengejaran senjata pemusnah massal rezim Iran, pengembangan program rudal balistik, campur tangan Iran dalam urusan internal negara lain, serta dukungan Iran terhadap terorisme.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA