Kamis 24 Sep 2020 10:53 WIB

Norwegia Gulirkan Rencana Aksi Melawan Kebencian Pada Muslim

Pemerintah Norwegia akan memerangi rasisme dan diskriminasi.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil
Norwegia Gulirkan Rencana Aksi Melawan Kebencian Pada Muslim. Foto ilustrasi: Masjid pusat Islam Al-Noor di Baerum, Norwegia, 11 Agustus 2019.
Foto: EPA-EFE/Terje Pedersen
Norwegia Gulirkan Rencana Aksi Melawan Kebencian Pada Muslim. Foto ilustrasi: Masjid pusat Islam Al-Noor di Baerum, Norwegia, 11 Agustus 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, OSLO--- Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg dan Menteri Kebudayaan dan Kesetaraan Gender, Abid Raja memaparkan rencana aksi pemerintah Norwegia untuk mengatasi diskriminasi dan kebencian terhadap Muslim di negara itu.

Pada Desember tahun lalu, Pemerintah Norwegia sempat mengajukan rencana aksi untuk memerangi rasisme dan diskriminasi secara umum. Namun pada langkah terbarunya, pemerintah Norwegia meyakini bahwa harus juga mempertimbangkan untuk mengambil langkah-langkah memerangi kebencian yang ditujukan pada Muslim.

Baca Juga

"Ini adalah masalah dalam masyarakat kita, bahwa berbagai minoritas dihadapkan pada rasisme. Beberapa minoritas sangat rentan termasuk Yahudi dan Muslim," kata Solberg seperti dilansir Norway Today pada Kamis (24/9).

"Kami sudah memiliki upaya untuk melawan anti semitisme dan sekarang kami juga memaparkan rencana lain untuk memerangi diskriminasi dan kebencian terhadap Muslim," tambahnya.

Dalam rencana pemerintah Norwegia itu juga disebutkan bahwa kepolisian secara khusus harus mendata setiap kejahatan dengan motif kebencian terhadap Muslim. Dengan itu memungkinkan untuk mengumpulkan statistik yang menunjukkan tingkat dan prasangka buruk terhadap Muslim.

Sementara itu baru-baru ini Dewan Islam Norwegia mengumumkan bahwa pembakaran Alquran tidak boleh dilindungi oleh kebebasan berekspresi. Itulah salah satu masukan Dewan Islam Norwegia kepada pemerintah terkait rencana aksi pemerintah

Solberg menyatakan keprihatinan bahwa hasutan dan pelecehan menyebabkan banyak orang menarik diri dari debat publik.Dalam sebuah artikel di surat kabar Vart Land, dia menulis bahwa pertukaran kata-kata tentang rasisme sering kali mengarah pada perdebatan tentang kebebasan berekspresi dan apakah demonstrasi dengan pesan rasis harus dilarang. Pada saat yang sama, dia menekankan bahwa kritik terhadap Islam harus legal.

“Kebebasan berekspresi juga mencakup ekspresi untuk menghina, mengejutkan, atau menyinggung. Bukan hak asasi manusia untuk tidak tersinggung. Karenanya, kritik terhadap Islam harus dipertahankan, tetapi bukan kebencian Muslim,”tulis Solberg. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement