Kamis 24 Sep 2020 03:32 WIB

Studi: Pakai Kacamata Bisa Tekan Risiko Penularan Covid-19

Para peneliti sebut orang yang memakai kacamata berisiko lebih rendah kena Covid-19

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Christiyaningsih
Para peneliti sebut orang yang memakai kacamata berisiko lebih rendah kena Covid-19. Ilustrasi.
Foto: AP/Gero Breloer
Para peneliti sebut orang yang memakai kacamata berisiko lebih rendah kena Covid-19. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para peneliti di China mengungkapkan orang-orang yang memakai kacamata berisiko lebih rendah tertular Covid-19. Penelitian yang diterbitkan di JAMA Ophthalmology itu menyorot sedikitnya pasien berkacamata yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19, bahkan sejak virus itu menyebar di Wuhan pada Desember 2019 silam.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, para peneliti mengumpulkan data tentang pemakaian kacamata dari semua pasien dengan Covid-19 sebagai bagian dari riwayat kesehatan mereka. Studi kecil mereka menemukan hanya 5,8 persen atau 16 dari 276 pasien, yang dirawat dengan COovid-19, yang memakai kacamata selama lebih dari delapan jam sehari.

Baca Juga

Ketika mereka menentukan semua pasien ini rabun dekat, mereka selanjutnya mencari proporsi orang dengan miopia (rabun dekat) di Provinsi Hubei, di mana rumah sakit itu berada. Dalam penyelidikannya, mereka menemukan data yang lebih besar yaitu 31,5 persen.

Simon Kolstoe, dosen senior di Perawatan Kesehatan Berbasis Bukti dan Penasihat Etika Universitas di Universitas Portsmouth, menyebut penelitian ini sebagai pengamatan yang menarik. Namun seperti semua penelitian tunggal, hasilnya harus diperlakukan dengan hati-hati.

Meskipun pelindung mata selalu menjadi komponen penting dari alat pelindung diri (APD), besarnya perbedaan yang dilaporkan oleh penelitian ini menimbulkan kecurigaan.

"Ini bukan untuk mengatakan hasilnya mungkin tidak nyata. Tetapi kita tidak boleh mulai menyarankan perubahan perilaku berskala besar (seperti memakai kacamata bersama dengan masker wajah kita) sampai sudah dikonfirmasi secara independen," kata Kolstoe yang dikutip dari Science Alert, Rabu (23/9).

Kolstoe menjelaskan salah satu langkah kunci untuk infeksi virus adalah masuk ke dalam tubuh. Sementara sebagian besar tubuh kita ditutupi dengan kulit pelindung, yang sangat efektif untuk mencegah virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh kita. Dia juga menyebut adanya "selaput" yang menutupi saluran udara yang terdapat pada sistem pencernaan dan mata kita.

"Peran selaput tipis ini adalah untuk memungkinkan benda-benda eksternal seperti oksigen, makanan, dan dalam kasus mata, cahaya masuk ke dalam tubuh kita, dan sayangnya, virus telah belajar memanfaatkan titik masuk ini," jelasnya.

"Inilah alasan APD dirancang untuk melindungi titik masuk ini, melalui penggunaan masker wajah, kacamata, dan pakaian pelindung," imbuh Kolstoe.

Namun selain masuk melalui udara sebagai aerosol, cara utama partikel virus mencapai tubuh sebenarnya melalui tangan. Maka dari itu ada anjuran Covid-19 untuk sering mencuci tangan selama 20 detik atau lebih dan hindari menyentuh wajah.

"Oleh karena itu, masuk akal bahwa menutup mata dengan kacamata dapat memberikan perlindungan ekstra, baik dari virus yang mungkin terbawa napas orang lain, tetapi juga untuk mencegah pemakainya menyentuh mata mereka," ujarnya.

"Jadi, meskipun studi baru ini sangat menarik, ada banyak alasan untuk berhati-hati dengan hasil ini. Kami tentu membutuhkan lebih banyak data sebelum memberi saran apa pun tentang memakai masker dan kacamata," ujar Kolstoe menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement