Rabu 23 Sep 2020 18:11 WIB

BNPB: Banjir Bandang Sukabumi Akibat Luapan Sungai Citarik

Banjir bandang Sukabumi berdampak terhadap 176 KK.

BNPB: Banjir Bandang Sukabumi Akibat Luapan Sungai Citarik. Warga mengamati proses evakuasi akibat banjir bandang di Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (22/9). Banjir bandang tersebut terjadi pada Senin (21/9) pukul 17.00 WIB akibat luapan sungai Citarik-Cipeuncit yang merendam tiga kecamatan yakni Cicurug, Parungkuda, Cidahu dan menyebabkan 234 rumah rusak, 210 kepala keluarga mengungsi serta tiga orang meninggal dunia. Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai
BNPB: Banjir Bandang Sukabumi Akibat Luapan Sungai Citarik. Warga mengamati proses evakuasi akibat banjir bandang di Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (22/9). Banjir bandang tersebut terjadi pada Senin (21/9) pukul 17.00 WIB akibat luapan sungai Citarik-Cipeuncit yang merendam tiga kecamatan yakni Cicurug, Parungkuda, Cidahu dan menyebabkan 234 rumah rusak, 210 kepala keluarga mengungsi serta tiga orang meninggal dunia. Republika/Thoudy Badai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), luapan air di Sungai Citarik-Cipeucit dan Sungai Cibojong menjadi penyebab terjadinya banjir bandang di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

"Kesimpulan yang didapat adalah meluapnya Sungai Citarik-Cipeucit dan Sungai Cibojong menjadi faktor penyebab terjadinya banjir bandang," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati melalui keterangan pers, Rabu (23/9).

Baca Juga

Berdasarkan hasil monitoring BMKG, curah hujan yang terukur di wilayah Pos Perkeb Tugu Menteng, Kecamatan Lengkong, dan Pos Ganesha, Kecamatan Cisolok, adalah sebesar 88 mm dan 57 mm. Curah hujan tersebut tergolong tinggi sehingga berakibat menimbulkan banjir bandang. Analisis meteorologi BMKG dari citra radar juga menunjukkan pada Senin 21 (21/9), pukul 14.08 WIB, terdapat pertumbuhan awan konvektif di Sukabumi bagian utara dan selatan. Awan konvektif tersebut berupa cumulunimbus (CB) yang terbentuk sangat cepat dan intensif.

Dari hasil analisis tersebut, BMKG menyimpulkan meluapnya Sungai Citarik-Cipeucit dan Sungai Cibojong menjadi faktor penyebab terjadinya banjir bandang. Dalam 24 jam terakhir sebelum kejadian, di wilayah hulu atau di sebelah utara Sukabumi maupun di wilayah terdampak juga mengalami curah hujan sedang hingga tinggi dengan intensitas mencapai 120 mm.

Intensitas hujan tertinggi berada pada bagian hulu, yaitu di sekitar Gunung Salak. BMKG memperkirakan hujan yang kemungkinan terakumulasi dalam 24 jam terakhir dan tertampung di daerah hulu tersebut meluap dan menghancurkan bendung alami, yang diduga telah terbentuk di bagian hulu sungai.

Sementara itu, berdasarkan analisis sementara yang dihimpun Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB, wilayah kejadian banjir bandang Sukabumi merupakan dataran rendah yang berada di bawah kaki Gunung Salak dan dilalui beberapa sungai, yaitu Sungai Citarik-Cipeuncit dan Sungai Cibojong. Kemudian, menurut monitoring bahaya Banjir Bandang InaRisk BNPB, wilayah yang terdampak tersebut memiliki indeks bahaya sedang hingga tinggi terhadap banjir bandang.

Di sisi lain, berdasarkan pantauan GPM-NASA (inaWARE) dalam 24 jam terakhir sebelum kejadian, wilayah hulu atau di sebelah utara Sukabumi maupun di wilayah yang terdampak, mengalami curah hujan sedang hingga tinggi dengan intensitas hingga 120 mm. Hujan dengan intensitas tinggi tersebut menyebabkan massa air di daerah hulu menjadi semakin besar.

Adapun kondisi wilayah sungai yang rusak dan mengalami erosi serta sedimentasi juga menimbulkan potensi terbentuknya bendung alami. Ketika bendung alami tersebut menjadi besar dan terganggu keseimbangannya oleh intensitas hujan tinggi, bendung alami tersebut berpotensi menjadi limpasan air beserta lumpur dengan jumlah yang besar dan cepat atau disebut juga banjir bandang.

Berdasarkan analisis citra Himawari-8 LAPAN sebelum terjadi banjir bandang pada pukul 16.40 WIB, hujan terdeteksi terjadi sejak pukul 15.30 WIB dengan intensitas sedang 40 mm per jam, kemudian semakin meningkat menjadi 100 mm per jam pada pukul 16.40 WIB. Intensitas hujan tertinggi berada pada bagian hulu, yaitu di sekitar Gunung Salak. Pantauan tersebut menyimpulkan kemungkinan hujan yang terakumulasi dalam 24 jam terakhir menjadi tertampung di daerah hulu, kemudian meluap dan menghancurkan bendung alami yang diduga terbentuk di bagian hulu sungai.

Bencana banjir bandang di Sukabumi yang terjadi pada Senin (21/9) telah mengakibatkan dua warga meninggal dunia dan seorang warga masih dalam proses pencarian. Sementara itu ada 10 orang luka-luka yang dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Menurut data yang dirangkum hingga Rabu (23/9) pukul 13.00 WIB, peristiwa banjir bandang tersebut telah berdampak terhadap 176 KK atau 525 jiwa dan sebanyak 78 jiwa terpaksa harus mengungsi. Sedikitnya 127 unit rumah yang tersebar di 11 desa juga terdampak, dengan rincian 34 unit rumah mengalami rusak berat, 23 rusak sedang dan 70 rumah rusak ringan.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement